Puti Soekarno di Mata Profesor Jepang, Punya Potensi Besar Jadi Presiden Indonesia

Puti dianggap sangat smart dalam berpikir, punya ciri khas pidato seperti kakeknya, menunjukkan kepintarannya

Puti Soekarno di Mata Profesor Jepang, Punya Potensi Besar Jadi Presiden Indonesia
Richard Susilo
Profesor Masakatsu Tozu, 75, pengajar Universitas Kokushikan Tokyo Jepang 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarnoputri lebih dikenal dengan nama pendeknya Puti Guntur Soekarno (PGS) dianggap seorang profesor Jepang berpotensi menjadi Presiden Indonesia di masa depan, bukan tahun 2019.

"PGS sudah dua kali ke universitas Kokushikan dan menjadi dosen tamu di sini. Saat ceramah dia hebat sekali, Persis seperti kakeknya Presiden Soekarno. Kaget juga saya mendengarnya," papar Profesor Masakatsu Tozu, 75, pengajar Universitas Kokushikan Tokyo Jepang khusus kepada Tribunnews.com Rabu ini (6/12/2017).

Puti dianggap sangat smart dalam berpikir, punya ciri khas pidato seperti kakeknya, menunjukkan kepintarannya dalam berkomunikasi dan berkoordinasi dengan orang lain, halus lembut tapi tegas dan benar punya daya pikat kepemimpinan yang hebat seperti kakeknya Presiden Soekarno, tambahnya.

"Saat ini masih muda ya mungkin belum waktunya. Tapi saya percaya di masa depan Indonesia dia punya kekuatan luar biasa untuk bisa menjadi pemimpin bangsa Indonesia," tekannya lagi.

Tentu saja pengaruh dan dukungan lingkungan sekitarnya termasuk dari keluarganya sangatlah penting.

"Saat ini dia anggota parlemen di Indonesia dan cukup dihormati sekelilingnya. Namun jangan dilupa Megawati sangat berpengaruh sekali di Indonesia dan tentunya perlu dukungan pula tentu dari Megawati untuk bisa menjadi pemimpin bangsa Indonesia nantinya," tambahnya lagi.

Pembentukan pusat riset Soekarno di universitas Kokushikan juga tak lepas dari peran Puti yang sangat besar dalam mendukung pembentukan pusat riset yang baru terbentuk tiga tahun itu.

"Kita sudah dua kali ke Indonesia membawa belasan siswa untuk pertukaran budaya dengan rakyat Indonesia antara lain ke Solo dan sekaligus seminar mengenai Soekarno di mana tampaknya masih banyak rakyat Indonesia dari segi pendidikan mengenai Soekarno masih banyak yang belum tahu. Sekaligus kita ingin tukar pikiran dengan para ahli Bung Karno yang ada di Indonesia sehingga semakin melengkapi dan menyempurnakan pusat riset Soekarno di Jepang ini," tambahnya.

Diakui saat ini memang para peneliti khusus Bung Karno masih sedikit sekali mungkin sekitar lima orang Jepang.

"Tapi kami ingin sekali menyebarluaskan ilmu Bung Karno ini di Jepang dimulai dari para murid kami yang banyak juga tertarik mengenai Bung Karno."

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help