Jualan Produk Kimono Jepang di Mercari, Bermasalah Kini Kabur Situs Didelete

Sebagian besar penjualan di situs belanja online Jepang Mercari, langsung menutup halaman jualan itu

Jualan Produk Kimono Jepang di Mercari, Bermasalah Kini Kabur Situs Didelete
Richard Susilo
Pengumuman di Mercari mengenai akun "Harenohi" yang kabur mendelete halamannya di Mercari. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Jualan produk kimono Jepang bermasalah besar muncul sejak 8 Januari lalu saat perayaan hari kedewasaan di Jepang.

Sebagian besar penjualan di situs belanja online Jepang Mercari, langsung menutup halaman jualan itu 9 Januari karena dicurigai melanggar hukum.

"Jualan di Mercari dilarang apabila dilakukan perusahaan dan yang dilakukan akun Harenohi tersebut diduga melanggar aturan yang ada di Mercari, itulah sebabnya halaman jualan di delete," ungkap sumber Tribunnews.com Rabu ini (10/1/2018).

Lebih dari 70 produk termasuk lengan sleeves kimono, pita belakang, obi (ban pinggang kimono) dan sandal dijual oleh akun tersebut di Mercari sekitar 2 bulan lalu dan banyak yang telah melakukan pembelian lewat akun tersebut.

Di Yokohama pun ada perusahaan nama nama Harenohi Co.Ltd., yang kini sedang diselidiki pihak kepolisian.

Mercari pun sedang mencari tahu hubungan akun tersebut dengan perusahaan dengan nama serupa.

Meskipun orang telah membayar membeli dari Mercari, tampaknya banyak barang dari akun tersebut tidak diterima oleh pembeli.

Demikian pula orang yang mengaku dari Harenohi Co.Ltd. yang berjanji membayar satu juta yen pelunasan penggunaan ruang sebuah hotel di Yokohama tanggal 8 Januari, ternyata tidak datang dan tidak membayar hotel tersebut.

Sebanyak 520 kasus penipuan langsung dilaporkan tanggal 8 dan 9 Januari lalu oleh berbagai pihak ke polisi karena mereka tidak bis apakai kimono untuk hari kedewasaan yang dijanjikan.

"Padahal saya sudah booking sejak dua tahun lalu untuk acara ini ternyata kena tipu," ungkap seorang wanita salah satu korban kepada Tribunnews.com.

Kesulitan keuangan tersbeut juga telah diketahui pihak hotel sejak tanggal 5 Januari 2018 di mana seharusnya melunasi tetapi minta diundur tanggal 8 Januari pembayarannya. Ternyata tanggal 8 Januari pun pihak perusahaan tersbeut tidak datang dan tidak membayar.

Pihak hotel pun akan mengajukan tuntutan kerugian atas hal tersebut di samping 520 korban lainnya.

Sementara toko atau kantor Harenohi yang dilihat Tribunnews.com tutup tidak ada kegiatan sama sekali sejak kejadian tersebut dan telepon pun tak bisa dihubungi.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help