Penderita Penyakit Kelamin Sifilis di Jepang Semakin Meningkat

Pada tahun 2010, jumlah totalnya adalah 621, angka yang terus melonjak dalam tahun-tahun berturut-turut.

Penderita Penyakit Kelamin Sifilis di Jepang Semakin Meningkat
Richard Susilo
Korban yang terkena penyakit kelamin sifilis dengan penampilan seperti pada gambar ini. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Data yang dirilis oleh Pemerintah Jepang pada Jumat lalu (5/1/2018) mengungkapkan jumlah pasien sifilis tahun 2017 melebihi 5.000 kasus untuk pertama kalinya, sebuah alasan untuk diprihatinkan mengingat Jepang akan menjadi tuan rumah Olimpiade dalam dua tahun mendatang.

Menurut cabang Tokyo dari Institut Nasional Penyakit Menular, jumlah kasus penyakit menular seksual yang tercatat sampai 17 Desember 2017 mencapai 5.534, meningkat lebih dari 1.000 kasus daripada tahun sebelumnya (4.518).

"Dengan demikian jumlah tersbeut melebihi 5.000 untuk pertama kalinya sejak data mulai disimpan pada tahun 1999,"! ungkap sumber Tribunnews.com Rabu ini (10/1/2018).

Pada tahun 2010, jumlah totalnya adalah 621, angka yang terus melonjak dalam tahun-tahun berturut-turut.

Alasan lonjakan kasusnya tidak jelas, kata lembaga tersebut, meski spekulasi empat tahun lalu adalah bahwa kenaikan tersebut disebabkan oleh kontak seksual antar para laki-laki.

Jumlah pasien terbanyak ditemukan di Tokyo (1.705), yang diikuti oleh Osaka (788), Aichi (325), dan perfektur Kanagawa (312).

Sifilis, yang disebabkan oleh bakteri treponema yang masuk ke kulit yang terluka atau selaput lendir, bisa diobati dengan antibiotik seperti penisilin.

Gejala awal meliputi ruam kulit di daerah genital dan bibir namun masalah neurologis mungkin bisa terjadi pada tahap selanjutnya.

Jika penyakitnya tidak diobati, ia bisa bergerak melalui tubuh, yang akhirnya menimbulkan komplikasi di otak dan jantung.

Jika seorang wanita mengidap penyakit ini sebelum atau sesudah hamil dia bisa menyebarkannya ke bayinya.

Dikenal sebagai sifilis kongenital, ada kemungkinan lahir mati berakibat atau bayi menderita meningitis dan ruam kulit.

Yang terakhir ini sangat meresahkan mengingat jumlah kasus di antara wanita berusia 20-an telah meningkat secara signifikan, menurut institut tersebut.

Dengan Tokyo menjadi tuan rumah Olimpiade 2020, pemerintah metropolitan telah menciptakan penjatahan anggaran untuk fiskal 2018 yang akan memungkinkan dilakukannya administrasi lebih banyak tes dan pelatihan dokter, tambahnya.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help