Harga Sebuah Privasi Di Jepang Adalah 1,1 Juta Yen atau Sekitar Rp.132 Juta

Melanggar privasi seseorang sangat berat hukumnya karena membahayakan orang yang bersangkutan

Harga Sebuah Privasi Di Jepang Adalah 1,1 Juta Yen atau Sekitar Rp.132 Juta
Richard Susilo
Hakim Isao Maesawa (tengah) sebelum memimpin sidang pengadilan kasus privasi seorang suami yang menuntut Pemda Zushi Jepang Senin ini (15/1/2018). 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Seorang suami berusia 47 tahun menuntut pemda kota Zushi perfektur Kanagawa karena pegawai pajaknya membocorkan alamat isterinya berakibat sang isteri dibunuh mantan pacarnya. Hakim mengabulkan tuntutan pelanggaran privasi dengan menghukum pemda Zushi membayar 1,1 juta yen atau sekitar Rp.132 juta.

"Melanggar privasi seseorang sangat berat hukumnya karena membahayakan orang yang bersangkutan dan juga merupakan penghianatan atas kepercayaan masyarakat terhadap privasi yang seharusnya dipegang teguh dilindungi pemda, kenyataan malah bocor," papar Hakim Isao Maesawa di pengadilan negeri Yokosuka Kanagawa Senin ini (15/1/2018) memutuskan denda 1,1 juta yen bagi pemda Zushi.

Sebelumnya sang suami yang isterinya terbunuh enam tahun lalu itu menuntut 11 juta yen namun hanya dikabutkan 10% nya saja.

Kejadian bulan November tahun 2012, Rika Miyoshi (33) dibunuh oleh mantan pacarnya.

Mantan pacarnya mengetahui rumah Miyoshi karenha menyewa detektif yang menanyakan alamat rumah Miyoshi ke petugas pajak pemda Zushi lalu diberitahukan alamatnya.

Suami Rika, Miyoshi (47) Oktober tahun lalu mengajukan tuntutan hukum kepada pemda Zushi untuk kasus pembocoran privasi seseorang.

Miyoshi yang mendengarkan keputusan tersebut mengomentari, "Saya terus terang tak bisa menilai keputusan tersbeut karena isteri saya telah meninggal dunia gara-gara privasi dilanggar. Saya kecewa tuntutan 11 juta yen tak terkabulkan meskipun hakim membenarkan tuntutan saya tersebut."

Walikota Zushi, Ryuichi Hirai tidak akan naik banding menerumah keputusan tersebut, "Kami minta maaf sedalamnya kepada keluarga korban atas kejadian ini dan akan menjaga sebaik mungkin privasi di pemda kami untuk masa mendatang," tekannya.

Kasus kebocoran privasi terjadi pula 3 tahun lalu di kota Matsubushi perfektur Saitama Jepang.

Pihak pemda salah kirim surat ke alamat mantan suaminya untuk dokumen keluarga sang mantan isteri yang tinggal di alamat berbeda.

Matsumoto  Kunihiko, Sekretaris kota Matsubushi meminta maaf atas kejadian tersbeut.

"Kebocoran informasi korban sangat bahaya memang. Secara psikologi akan merugikan sekali korban. Olehkarena itu kami akan jaga dengan baik privasi dan semoga tak terulang lagi kelalaian kami itu di masa depan," paparnya.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help