Mobil dengan Sistem Rem Otomatis di Jepang Ternyata 24,5 Persen Alami Kejadian Tak Terduga

Survei mengenai kelengkapan teknologi keselamatan baru, seperti pengereman otomatis, ternyata hasilnya mengejutkan.

Mobil dengan Sistem Rem Otomatis di Jepang Ternyata 24,5 Persen Alami Kejadian Tak Terduga
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Ilustrasi mobil Jepang yang telah dilengkapi fungsi pengereman otomatis sehingga sulit terjadi tabrakan (menabrak dari belakang). 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Survei dari Pusat Kehidupan Masyarakat Jepang baru-baru ini mengenai kelengkapan teknologi keselamatan baru, seperti pengereman otomatis, ternyata hasilnya mengejutkan.

Satu dari empat responden memberikan jawaban tidak terduga sebelumnya.

"Saya tidak ingin terlalu percaya diri dan ingin tetap mengemudi dengan aman," ungkap mayoritas responden.

Dalam lima tahun terakhir sedikitnya 142 konsultasi diterima mengenai sistem pengereman otomatis atau 80 persen dari jumlah yang melakukan konsultasi.

Survei dilakukan terhada 2000 orang yang menggunakan kendaraan rem otomatis dan ternyata 491 orang menjawab bahwa mereka tiba-tiba mengalami kejadian tak terduga seperti alat yang bekerja saat mengemudi, atau berarti 24,5 persen dari total responden.

Baca: Cerita Idrus Diusir dari Kantor Kementerian yang Dia Pimpin Sekarang Hanya karena Pakai Sandal Jepit

Beberapa jawaban, "tiba-tiba dipercepat" mencapai 18,9 persen, "tiba-tiba melambat" mencapai 17,7 persen, "rem otomatis dioperasikan secara tidak terduga" 14,4 persen.

Ketika mempertanyakan ke produsen mobil, dikatakan bahwa semua fungsi dijelaskan pada saat pembelian, dengan fungsi yang terbatas.

Misalnya saja ketika rintangannya kecil atau visibilitasnya buruk atau peralatan tidak bekerja.

Sebaliknya, dalam kuesioner kepada pengguna, 17 persen responden mengatakan bahwa mereka tidak mengerti tentang batas fungsi pengereman otomatis.

"Kinerja dan kondisi pengoperasian peralatan berbeda untuk setiap jenis mobil. Kami ingin masyarakat tetap mengemudi dengan aman tanpa mengalami gangguan dari fungsi yang ada," ungkap sumber Tribunnews.com, Kamis (18/1/2018).

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help