Pemda Semarang Kemungkinan Akan Dibantu Pembangunan Energi Listrik Matahari oleh Toyama Jepang

Awalnya sebenarnya kerjasama kita dengan Tabanan di Bali lalu kerjasama meluas ke pemda Bali

Pemda Semarang Kemungkinan Akan Dibantu Pembangunan Energi Listrik Matahari oleh Toyama Jepang
Richard Susilo
Walikota Toyama Masashi Mori (65) 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO -  Walikota Toyama Jepang, Masashi Mori (65) sedang memikirkan bantuan energi listri tenaga matahari bagi pemda Semarang saat ini, ungkapnya khusus kepada Tribunnews.com Senin ini (22/1/2018).

"Awalnya sebenarnya kerjasama kita dengan Tabanan di Bali lalu kerjasama meluas ke pemda Bali membantu berbagai hal terkait lingkungan hidup di sana," papar Mori siang ini (22/1/2018).

Walikota Mori mengaku kemudian mendapat pendekatan dari pemda Semarang dan ditindak lanjuti dengan kehadiran Walikota Semarang Hendrar Prihadi, S.E, M.M (46) ke Toyama dan  melakukan kerjasama membuat Letter of Intent (LOI) dengan Walikota Toyama   bidang lingkungan hidup tanggal 14 Desember tahun lalu.

"Kami sedang pikirkan bantuan untuk energi listrik dari energi terbarukan dan kemungkinan besar tenaga matahari. Tapi tampaknya sinar matahari panas sekali di sana ya. Masih diteliti lebih lanjut energi terbarukan seperti apa yang terbaik buat Semarang," paparnya lagi.

Selain dengan Indonesia, Walikota Toyama yang telah enam kali terpilih sebagai Walikota (pertama kali terpilih tahun 2002), Mori, memang memiliki banyak visi menarik dan aktif kerjasama dengan berbagai negara selain Indonesia, juga dengan Korea dan membantu Selandia Baru pula.

Dirinya menginginkan pembangunan di daerah Toyama jauh lebih maju daripada sekarang, "Pembangunan jangan terpusat di Tokyo, kiranya bisa menjalar ke Toyama ke daerah-daerah sehingga masalah besar yang ada di daerah seperti kekurangan tenaga kerja bisa tertasi dengan baik nantinya," paparnya lagi.

Diakuinya dua solusi untuk memecahkan masalah tersebut yaitu memasukan orang asing dan cara kedua mempekerjakan orang yang sudah pensiun 65 tahun tapi masih mampu bekerja diperpanjang masa kerja dan ibu-ibu dipekerjakan untuk mengisi kekosongan tenaga kerja.

Untuk tenaga kerja asing mungkin agak berat menurutnya selain bahasa dan budaya, juga perlu waktu yang mungkin agak lama untuk penyesuaian lebih lanjut sehingga pada akhirnya pilihan kedua menjadi pilihan yang terbaik untuk sementara saat ini yaitu mengaktifkan kembali para lanjut usia 65 tahun (masa pensiun) diperpanjang masa usia kerjanya serta membangkitkan tenaga kerja wanita yang tadinya hanya ibu rumah tangga saja.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved