Jumlah Tenaga Kerja Asing di Jepang Mencapai 1,27 Juta Jiwa, Paling Banyak Orang China

Data Kementerian Tenaga Kerja Jepang mencatat jumlah tenaga kerja asing di Jepang saat ini melebihi 1,27 juta jiwa.

Jumlah Tenaga Kerja Asing di Jepang Mencapai 1,27 Juta Jiwa, Paling Banyak Orang China
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Gedung Kementerian Tenaga Kerja Jepang di Kasumigaseki Tokyo Jepang. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Data Kementerian Tenaga Kerja Jepang mencatat jumlah tenaga kerja asing di Jepang saat ini melebihi 1,27 juta jiwa yang terbanyak dalam 10 tahun terakhir.

"Jumlah tenaga kerja asing banyak sekali saat ini dan lowongan kerja juga bertambah, tetapi karakter kerja di Jepang berubah. Yang ahli tampak berkurang, dan yang tenaga tetap juga berkurang. Pekerja bertambah banyak yang pemagang dan tidak tetap, termasuk kontrak, dan paruh waktu," ungkap ahli ekonomi terkenal Jepang, Takeo Hoshi yang juga Chair of the Board The Tokyo Foundation kepada Tribunnews.com, Jumat (26/1/2018).

Baca: Saya Tungguin Istri, Kalau Capek Saya Tidur di Hotel Tempat Istri Tidur dengan Pria Lain

Jumlah tenaga kerja asing saat ini bekerja di 1.727.670 perusahaan Jepang per 31 Oktober 2017.

Jumlah tersebut meningkat 18 persen dibandingkan tahun lalu dan angka kenaikan 18 persen juga kenaikan tertinggi sejak tahun 2008.

Baca: Polisi Kaget Pergoki Dua Pria di Dalam Kamar Kondisinya Setelah Telanjang

Orang China paling banyak yaitu 372.000 tenaga kerja.

Lalu tenaga kerja Vietnam sebanyak 240.000 orang, disusul Filipina sebanyak 146.000 orang.

Bahkan peningkatan jumlah tenaga kerja Vietnam sangat banyak yakni 40 persen dibandingkan tahun lalu.

Dari segi industri, 385.000 orang berada di pabrik atau perusahaan manufaktur.

Kemudian 189.000 orang bekerja di bidang jasa (servis) dan 166.000 orang di bidang pedagang besar dan ritel seperti supermarket.

Baca: Mengapa Kasus yang Mencuat saat Pilkada DKI Kini Tak Jelas Nasibnya? Ini Kata Komisi Kejaksaan RI

Dari status tinggal, 45.000 orang dengan visa istri atau suami warga Jepang, 259.000 orang sebagai pelajar internasional, kemudian 257.000 orang sebagai pemagang.

Untuk pelajar internasional meningkat 24 persen.

"Jumlah pelajar internasional dan pemagang meningkat memang baik untuk menutupi kekurangan tenaga kerja di Jepang dan menjalankan roda perekonomian lebih baik. Tetapi tetap saja perekonomian tak bisa tumbuh dengan baik karena kualitas tenaga rendah tidak tinggi. Berarti upah yang diterima tidaklah tinggi. Hal ini mengakibatkan tingkat daya beli tidak bisa meningkat di Jepang, sehingga skala pertumbuhan ekonomi naik sedikit saja tidak akan banyak," tambah Hoshi.

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help