Dari 10 WNI Hanya 2 Warga Indonesia Berani Lakukan Presentasi Pendapatnya di Kyoto Jepang

Happyokai ini yang ke-9 kali dilakukan dan tahun depan juga akan diselenggarakan lagi.

Dari 10 WNI Hanya 2 Warga Indonesia Berani Lakukan Presentasi Pendapatnya di Kyoto Jepang
Kyoto Shimbun
Salah satu peserta dari Indonesia, Eko Susanto sedang melakukan presentasi pendapatnya mengenai orang Jepang di Kyoto kemarin (27/1/2018) 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Dari sepuluh warga Indonesia yang ikut belajar bahasa Jepang di paletto, Terada kota Joyo perfektur Kyoto ternyata hanya ada dua WNI yang berani ikut serta presentasi pendapatnya di hadapan banyak orang di muka umum diselenggarakan kelompok sukarelawan Yume Kikkyu kerjasama dengan pemda kota Joyo kemarin (28/1/2018).

"Ada 2 orang Indonesia ikut serta presentasi, dua orang Vietnam dan satu orang Taiwan," ungkap Akira Shibutani (72) koordinator acara tersbeut khusus kepada Tribunnews.com Senin ini (29/1/2018).

Tujuan penyelenggaraan presentasi (happyokai) tersebut menurutnya untuk bisa berkomunikasi dengan lebih baik lagi dengan masyarakat Jepang sekitarnya sebagai orang asing.

"Kalau bisa berkomunikasi dengan baik tentu kehidupannya akan semakin baik semakin lancar enak di Jepang," tambahnya.

Happyokai ini yang ke-9 kali dilakukan dan tahun depan juga akan diselenggarakan lagi.

Kali ini sedikitnya 50 orang menyaksikan Happyokai tersebut termasuk sekitar 12 orang dari masyarakat umum dan beberapa orang dari kalangan pendidikan Jepang.

Selain Eko Susanto (25) satu orang lagi yaitu Fadilla Zain Akbar (20) yang juga penuh semangat mempresentasikan mengenai ajaran Islam dan dipadukan dnegan lagu-lagu Jepang.

Sedangkan Eko mempresentasikan mengenai sosialisasinya dengan warga Jepang dalam bertanya jawab, "Jangan malu untuk bertanya dan jangan marah kalau berbuat salah, tema yang dibicarakannya kemarin.

Keduanya adalah pemagang Indonesia yang ada di Kyoto Jepang.

"Di klub Paletto hanya sekali seminggu setiap hari minggu saja belajar bahasa Jepang sedang di Kelompok Asosiasi pertukaran budaya kota Joyo setiap hari mulai Senin sampai dengan Jumat.

Kalangan warga Indonesia kebanyakan para pemagang yang ada di sini jadi ya bisanya hari Minggu untuk belajar bahasa Jepang. Akibatnya di tempat Asosiasi tersebut tidak ada muridnya yang warga Indonesia," lanjut Shibutani lagi.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help