BBC

Apakah kunjungan wisata Anda sesuai atau bertentangan dengan HAM?

Dalam berbagai foto, pulau-pulau yang mengelilingi Maladewa tampak sangat indah -siapa nyana masalah HAM membelit negeri itu, menimbulkan pertanyaan:

Dalam berbagai foto, pulau-pulau yang mengelilingi Maladewa tampak sangat indah, terlihat nyaris seperti bukan hal nyata.

Negara kepulauan itu dipenuhi terumbu karang, kehidupan laut dan laguna berpasir--sebanding dengan turis-turis yang berdatangan.

Namun, pekan ini pulau yang dijuluki surga dunia itu diterpa masalah. Presiden Maladewa menolak untuk menghormati perintah Mahkamah Agung untuk membebaskan pemimpin oposisi yang dipenjara, dan mengumumkan keadaan darurat.

Kalangan internasional mengecam langkah tersebut. Beberapa pengamat mengatakan bahwa para wisatawan harus memboikot negara tersebut dengan alasan hak asasi manusia.

Perdebatan mereka memicu berbagai pertanyaan: Haruskah kita memilih tempat wisata untuk kepantasan mereka? (Dan adakah tempat yang tepat untuk dicermati jika kita melakukannya?).

Jalan panjang dari pulau surga

Agen wisata yang berbasis di Inggris, Responsible Travel menjual jasa perjalanan untuk para wisatawan yang ingin melihat dunia tanpa berdebat jauh soal ketidakadilan, atau membahayakan lingkungan.

Justin Francis, direktur agen perjalanan sudah lama memikirkan dilema ini sejak perusahaan tersebut dibuka pada tahun 2001.

Ia mencatat meski industri pariwisata memiliki kepentingan dalam menghidupkan tempat-tempat seperti Maladewa menjadi sebuah "surga", namun kenyataannya kurang begitu menyenangkan.

Maladewa
LAKRUWAN WANNIARACHCHI/AFP/Getty Images
Keistimewaan resor pantai Maladewa. Tidak terlihat pergolakan politik baru-baru ini.

"Sulit untuk menyembunyikan kebenaran dari para turis," katanya.

"Saya mungkin tidak pernah melihat pabrik yang memproduksi kaos saya. Tetapi jika Anda pergi ke sana, Anda bertemu seseorang, supir taksi atau siapapun. Hal-hal yang tidak ingin Anda lihat, namun Anda akan mendengarnya."

Halaman
1234
Sumber: BBC Indonesia
BBC
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help