Empek-empek Palembang di Jepang Sempat Mengagetkan Menteri Indonesia

Rosa ternyata belajar sendiri, otodidak untuk membuat empek-empek Palembang dan dia pun kelahiran Palembang.

Empek-empek Palembang di Jepang Sempat Mengagetkan Menteri Indonesia
Richard Susilo
Rosa Efijany (43) WNI yang sukses buat Empek-empek Palembang di Jepang 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Seorang menteri Indonesia datang ke Tokyo. Saat makan bersama dengan seorang pengusaha Jepang beserta isterinya orang Indonesia, cukup kaget mencoba empek-empek Palembang buatan sang isteri Indonesia enak sekali.

"Waduh, suami saya orang Jambi, dan saya suka makan empek-empek Palembang, ini kok luar biasa enak sekali ya, malah ada di Jepang, lebih enak daripada yang disantap di Palembang. Begitu kata sang menteri kepada saya," ungkap Rosa Efijany (43) yang sudah 16 tahun tinggal di Jepang khusus kepada Tribunnews.com Rabu ini (21/2/2018).

Rosa ternyata belajar sendiri, otodidak untuk membuat empek-empek Palembang dan dia pun kelahiran Palembang.

"Saya waktu kecil memang susah makan. Kanan kiri saya pembuat empek-empek Palembang saya suka lihat mereka membuatnya. Sampai di Jepang masih belum bisa buat empek-empek Palembang. Beli  di Jepang sekali tapi tak cocok rasanya. Lalu juga bawa dari Indonesia," ungkapnya mulai menceritakan sejarahnya.

Kesal gak ada yang enak, Rosa penasaran ingin membuat sendiri.

Berbekal matanya yang menyaksikan sendiri pembuatan empek-empek saat masih di Palembang, Rosa mencoba sendiri "trial and error" membuat empek-empek Palembang. Akhirnya berhasil dalam 5 tahun terakhir ini.

"Saya suka bereksperimen uji coba supaya terus bisa lebih enak, mencari kemungkinan pakai ikan lain di Jepang bukan hanya ikan tenggiri saja," lanjutnya.

Ternyata empek-empek Palembang yang dibuatnya tidak hanya dari ikan tenggiri tetapi paling enak menurutnya dari ikan Belida.

"Cuma ikan Belida sudah mulai langka dan kalau ada harganya mahal, tidak seimbang dengan harga jual empek-empek, kemahalan bisa tidak ada yang beli nanti."

Halaman
123
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved