Perusahaan Jepang Diminta Sampaikan Permintaan Maaf kepada 400 Peserta Ujian Keperawatan Nasional

Kementerian tenaga kerja Jepang meminta kepada sebuah perusahaan swasta Jepang untuk membuat surat permintaan maaf kepada 400 peserta ujian nasional.

Perusahaan Jepang Diminta Sampaikan Permintaan Maaf kepada 400 Peserta Ujian Keperawatan Nasional
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Gedung Kementerian Tenaga Kerja Jepang di Kasumigaseki Tokyo Jepang. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Kementerian tenaga kerja Jepang meminta kepada sebuah perusahaan swasta Jepang untuk membuat surat permintaan maaf kepada 400 peserta ujian nasional keperawatan Jepang yang dilaksanakan 18 Februari 2018.

Perusahaan swasta tersebut meminta peserta yang berjilbab untuk berputar diri memperlihatkan bagian jilbabnya, memeriksa jilbab tersebut, dengan maksud antisipasi agar tidak terjadi kecurangan selama berlangsung ujian keperawatan nasional tersebut.

"Kita baru tunjuk pertama kali perusahaan swasta tersebut untuk menyelenggarakan ujian keperawatan nasional dan ternyata telah melakukan hal yang tidak pantas," ungkap sumber Tribunnews.com di Kementerian Tenaga Kerja Jepang, Selasa (27/2/2018).

Baca: Mengapa Didik Baru Mengaku Setelah Seminggu Lamanya Jasad Fitri Dicor?

Secara pribadi sumber tersebut meminta maaf kepada peserta yang berjilbab atas perlakuan perusahaan swasta tersebut yang kurang pengetahuan mengenai agama Islam.

"Pihak kementerian telah memerintahkan perusahaan swasta tersebut tanggal 23 Februari lalu agar mereka membuat surat permintaan maaf kepada 400 peserta ujian khususnya bagi yang berjilbab, telah mendapat perlakuan yang tidak pantas," ujar dia.

"Ini kejadian sangat tidak pantas. Tapi mungkin ada alasannya, kita mesti cari tahu dulu mengapa mereka melakukan seperti itu," kata sumber Tribunnews.com, seorang pimpinan fasilitas medis dan rumah sakit Jepang yang berada di Mitaka dan mempekerjakan puluhan perawat dan penopang lansia Indonesia.

Tiga negara disepakati datang ke Jepang sebagai perawat dan penopang lansia yaitu Indonesia, Filipina dan Vietnam dalam kerangka EPA (Economic Partnership Agreement).

Baca: Warga Tidak Curiga Melihat Didik Mengaduk Semen, Ternyata untuk Mengecor Jasad Fitri

Indonesia sendiri kesepakatan itu ditandatangani bulan Juni 2006 antara Perdana Menteri Shinzo Abe dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Kemudian persiapan pengiriman dilakukan pertama kali akhir Desember 2006 dan tahun 2007 awal pengiriman dilakukan.

Tiba di Jepang belajar satu tahun bahasa Jepang dan tahun 2008 mulai penyebaran tenaga kerja perawat dan penopang Indonesia ke berbagai fasilitas, baik rumah sakit maupun panti jompo.

Mereka pun mulai bekerja penuh tahun 2008.

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved