Jilbab Diperiksa Sebelum Test Keperawatan Nasional Jepang, Pengusaha Minta Maaf

Saya mendengar kejadian itu jelas sangat menyesali sekali mengapa terjadi seperti itu.

Jilbab Diperiksa Sebelum Test Keperawatan Nasional Jepang, Pengusaha Minta Maaf
Richard Susilo
President Tokushinkai, Michio Sekine (64). 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Pemeriksaan jilbab saat sebelum ujian keperawatan nasional dilakukan 18 Februari lalu membuahkan protes.

Dilakukan sebuah perusahaan swasta Jepang yang dipercayakan menyelenggarakan ujian terhadap 400 calon peserta.

Bukan hanya pihak kementerian tenaga kerja yang akhirnya meminta (23/2/2018) perusahaan itu membuat surat permintaan maaf kepada 400 peserta ujian, tetapi sebuah perusahaan medis Jepang yang lain juga kesal dan ikut minta maaf mengetahui hal tersebut.

"Saya mendengar kejadian itu jelas sangat menyesali sekali mengapa terjadi seperti itu. Bahkan saya yang tak ada kaitan, rasanya ingin minta maaf sebesarnya kepada para peserta ujian yang pakai jilbab atas perlakuan yang diperoleh mereka tersbeut. Maaf sekali ya," papar President Tokushinkai, Michio Sekine (64) khusus kepada Tribunnews.com Rabu ini (28/2/2018).

Tokushinkai adalah perusahaan Jepang besar terkait medis yang merekrut puluhan tenaga kerja perawat dan penopang lansia Indonesia sambil memberikan pengajaran bahasa Jepang pula kepada mereka agar benar-benar siap saat menjalankan tugasnya di Jepang.

Tribunnews.com dalam kesempatan di masa lalu melihat  8 tenaga penopang lansia wanita Indonesia semua berjilbab saat belajar bahasa Jepang di kantornya di Tokyo. Di fasilitasnya yang berlokasi di tempat lain juga masih ada beberapa tenaga penopang lansia Indonesia lainnya yang direkrutnya.

"Saya sudah tanya ke pihak Disnaker Jepang dan memang benar kejadian tersebut. Bahkan pimpinan dinas tenaga kerja Jepang titip pesan minta maaf kepada para peserta yang berjilbab karena mendapat perlakuan demikian," ungkapnya lagi.

Hal yang sangat tidak pantas dilakukan sebuah penyelenggara ujian di Jepang yang lemah di bidang religius sehingga membuat hal yang semestinya tidak dilakukan.

"Tapi hal itu tampaknya dilakukan agar menghindari upaya contek menyontek saat ujian sehingga pemeriksaan jadi sangat ketat seperti itu."

Tanggal 18 Februari sebelum ujian dilakukan, saat memasuki lokasi ujian, semua peserta yang berjilbab diperiksa jilbabnya, diminta berputar, ingin dilihat siapa tahu ada hal mencurigakan terkait upaya menyontek saat ujian.

Kejadian tersebut pertama kali terjadi di Jepang sejak pertama kali perjanjian kontrak pengiriman tenaga penopang lansia dan perawat ditandatangani Juni 2006 oleh PM Jepang Shinzo Abe dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pertama kali di Jakarta. Lalu pengiriman perawat dan penopang lansia tahun 2007 ke Jepang.

Setelah belajar satu tahun barulah secara penuh mereka bekerja di fasilitas penopang lansia dan rumah sakit di Jepang tahun 2008.

Person in Charge dari Indonesia saat itu adalah Menteri Perdagangan Mari Pangestu untuk kaitan EPA (Economic Partnership Agreement) dengan Jepang atas pengiriman 1500 perawat dan penopang lansia Indonesia ke Jepang.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help