Kegiatan Ekonomi Di Bawah Tanah Jepang Sekitar 22 Triliun Yen Antara Lain 5 Triliun Oleh Yakuza

Sugawara atau terkenal dengan julukan Neko Kumicho, kemarin (28/2/2018) menerbitkan buku barunya

Kegiatan Ekonomi Di Bawah Tanah Jepang Sekitar 22 Triliun Yen Antara Lain 5 Triliun Oleh Yakuza
Richard Susilo
Mantan pimpinan Yakuza afiliasi Yamaguchigumi, Sugawara Ushio, bos Watanabe gumi dan salah satu pimpinan Sato gumi dengan buku barunya Under Protocol terbit kemarin (28/2/2018). 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Fantastis, itu mungkin kata paling tepat saat mendengar angka 22 triliun yen perekonomian Jepang berada di bawah tanah, tak lapor ke pajak, dan di antaranya 5 triliun yen adalah uang mafia Jepang (yakuza) yang tak jelas asal muasalnya dan tak terpajaki.

"Saya perkirakan uang yang berputar di bawah tanah hanya Jepang saja sekitar 4% dari GDP Jepang atau sekitar 22 triliun yen dan 5 triliun yen uang yakuza Jepang," papar mantan pimpinan Yakuza afiliasi Yamaguchigumi, Sugawara Ushio, bos Watanabe gumi dan salah satu pimpinan Sato gumi  dengan buku barunya Under Protocol, khusus kepada Tribunnews.com sore ini, Kamis (1/3/2018).

Sugawara atau terkenal dengan julukan Neko Kumicho, kemarin (28/2/2018) menerbitkan buku barunya Under Protocol setebal 190 halaman yang dijual dengan harga 1350 yen. Tentu saja semuanya dalam bahasa Jepang, berkisah mengenai perekonomian bawah tanah Jepang dari pengalamannya sendiri selama ini terutama saat menjadi pimpinan yakuza kelompok besar di Jepang.

 Sekitar tahun 2005 Sugawara berkecimpang di dunia bisnis perminyakan, terkait dengan Timur Tengah dan uangnya tercampur tak sengaja dengan kalangan Al Qaeda (Red.: padahal cuma mau bisnis dapat duit saja di pikirannya) lalu terdeteksi pihak finansial Amerika Serikat (AS).

 Uangnya sekitar 60 miliar yen yang berasal dari perdagangan saham, tercampur ke bisnis Timur Tengah, akhirnya tercekal AS dan sempat di interogasi pihak AS.

 Tapi karena memang tidak terlibat dalam kegiatan teroris Al-Qaeda akhirnya dilepaskan, namun uangnya amblas hilang tak kembali.

Sugawara sendiri mengakui tidak pernah menjado Sokaiya, apalagi saat ini yang sudah melepaskan diri dari kelompok yakuza Jepang

"Saya tak pernah jadi Sokaiya, apalagi kini berbagai peraturan sangat ketat, tidak akan memungkinkan Sokaiya muncul di rapat umum pemegang saham (RUPS)," paparnya lagi.

 Sokaiya adalah kelompok pengacau RUPS perusahaan Jepang dengan harapan dapat duit apabila ingin RUPS tidak dikacaukan oleh mereka. Anggotanya juga membeli saham yang akan melakukan RUPS sehingga bisa memasuki ikut serta rapat di dalam  RUPS suatu perusahaan Jepang karena memang nyatanya memiliki saham pakai nama anggota Sokaiya tersebut.

 Uang bawah tanah perekonomian Jepang itu bukan hanya dari organisasi kejahatan saja tetapi semua anggota masyarakat Jepang yang tak lapor pajaknya, terhitung perekonomian bawah tanag (chika keizai), menurutnya.

 Misalnya orangtua memberikan angpao kepada anak cucunya dan biasanya tidak sedikit, seharusnya dilaporkan ke pajak. Demikian pula uang terima kasih apa pun yang banyak diterima kalangan artis Jepang seharusnya dilaporkan ke pajak.

 "Kalau semua itu dilaporkan ke pajak, pusinglah semua orang di Jepang mungkin ya. Tapi itulah yang terjadi banyak orang Jepang yang tidak melaporkan pajaknya dengan benar ke kantor pajak," paparnya lagi.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help