Mantan Bos Yakuza Jepang Suka Jalan-jalan di Jalan Jaksa, Bercampur Orang Asing dan Lihat Toko

Sugawara yang punya dua anak, lelaki (tertua) dan wanita, sudah melepaskan dirinya dari dunia mafia

Mantan Bos Yakuza Jepang Suka Jalan-jalan di Jalan Jaksa, Bercampur Orang Asing dan Lihat Toko
Richard Susilo
Mantan pimpinan Yakuza afiliasi Yamaguchigumi, Sugawara Ushio, bos Watanabe gumi dan salah satu pimpinan Sato gumi sedang membaca buku barunya Under Protocol terbit kemarin (28/2/2018). 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Mantan pimpinan Yakuza afiliasi Yamaguchigumi, Sugawara Ushio (53), bos Watanabe gumi dan salah satu pimpinan Sato gumi khusus kepada Tribunnews.com sore ini, Kamis (1/3/2018) menyatakan senang jalan-jalan di Jalan Jaksa Jakarta Pusat karena banyak orang asing dan banyak toko menarik.

"Saya ke Jakarta tahun 2012 dan menginap di Jalan Jaksa Jakarta Pusat karena suasananya nyaman kekeluargaan baik, dan murah, serta banyak orang asing dan toko-toko menarik di sana. Jadi tiap hari jalan-jalan sekitar situ saja," paparnya.

Sugawara yang punya dua anak, lelaki (tertua) dan wanita, sudah melepaskan dirinya dari dunia mafia Jepang (yakuza) terutama dari Yamaguchigumi, kelompok yakuza terbesar di Jepang.

Kini kehidupannya banyak membuat buku terkait yakuza dan dunia hitam yang pernah digelutinya di masa lalu. Bahkan sering muncul di televisi, radio dan berbagai kegiatan umum lain dengan tenangny adan bicara ceplas-ceplos.

"Menarik juga ya kalau bisa menerbitkan buku saya ke dalam bahasa Indonesia sehingga lebih banyak orang mengenal yakuza yang sebenarnya dalam bahasanya sendiri," paparnya lagi sambil menunjuk Tribunnews.com mungkin bisa membantu menerjemahkan dan menerbitkannya ke dalam bahasa Indonesia.

Dalam pembicaraan dengan Tribunnews.com, Sugawara menceritakan banyak uang bawah tanah (chika keizai) di Eropa skeitar 8% dari GDP dan 4% dari GDP untuk Jepang dan Amerika Serikat. Sedangkan Indonesia yang banyak korupsi menurutnya sekitar 15-20% dari GDP nya saat ini.

"Satu yang sederhana mengenai chika keizai ini adalah pemberian tips kepada sopir taksi di jepang yang kini mulai banyak karena perekonomian masih lesu," paparnya.

Loh, ada pemberian tips kepada sopir taksi? Saya kok selalu dikembgalikan kembaliannya kalau naik taksi?

"Itu kan kalau kembalian 10 atau 20 yen ya dikembalikan. Tapi ini juga menyangkut kimochi (perasaan) yang diterima penumpang atas servis yang baik sopir taksi. Kalau baik servisnya saya suka kasih lebih 500 yen atau bahkan 1000 yen biar dia senang dan diterimanya, karena telah memberikan layanan yang baik," paparnya.

Dari hal tips itulah sebenarnya sudah masuk kategori chika keizai, tekannya lagi. Belum lagi angpao kepada anak cucu saat tertentu, misalnya tahun baru China, atau awal tahun terima toshidama (semacam angpao) kepada anak-anak kecil.

"Semua itu tidak tercatat dan kalau dijumlahnya besar kali chika keizai di Jepang. Tentu saja sebagian besar pula uang dari sindikat kejahatan di Jepang yang diputarkan di bawah tanah, tidak akan ada laporan pajak, atau melakukan penggelapan pajak."

Itulah sebabnya akhir-akhir ini tindakan kepolisian Jepang banyak melakukan kerjasama dengan pihak perpajakan Jepang.

Menangkap bos yakuza lewat jeratan pajak sehingga tak berkutik lagi, masuk ke pengadilan dan dihukum penjara karena sering terbukti menggelapkan miliaran yen pajak. Tak bisa bayar denda, masuklah ke penjara.

"Perekonomian yakuza termasuk Yamaguchigumi sangat sulit saat ini. Chika Keizai Yamaguchigumi yang dulu mungkin 1 triliun yen, kini mungkin separuhnya hanya mencapai 500 miliar yen. Benar-benar yakuza sedang sulit keuangan saat ini karena semakin ketat peraturan dan pengawasan pihak otoritas baik kepolisian maupun perpajakan."

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help