Jual-beli Prangko di Media Sosial Berisiko Tinggi Kalau Tak Mengerti Filateli

Penggunaan media sosial mislanya lewat Facebook memberikan kemudahan jual beli bagi produk dan jasa apa pun saat ini.

Jual-beli Prangko di Media Sosial Berisiko Tinggi Kalau Tak Mengerti Filateli
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Contoh prangko rusak tak ada nilai yang diterima pembeli yang melakukannya lewat media sosial Facebook 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Penggunaan media sosial mislanya lewat Facebook memberikan kemudahan jual beli bagi produk dan jasa apa pun saat ini.

Namun tidak sedikit memberikan risiko tinggi khususnya bagi penggemar filateli atau yang mendapat warisan prangko dari orangtuanya yang meninggal dunia.

"Belum lama seorang penggemar prangko Indonesia tertipu oleh pedagang yang hanya melakukan jual beli lewat online, lewat facebook. Penuh dengan janji palsu untuk menukar prangko yang dibelinya karena banyak yang rusak. Kenyataan dicueki dan pembeli harus merelakan uangnya karena tertipu penjual tersebut," kata Antonius, seorang filatelis Indonesia yang telah hijrah ke Jepang 30 tahun lalu kepada Tribunnews.com, Sabtu (3/3/2018).

Untuk masalah koleksi prangko bagi siapa pun Antonius menyarankan membaca dulu buku "Mengenal Filateli di Indonesia" yang dapat dibaca bebas di internet.

"Setelah membaca buku tersebut mungkin bisa terbuka matanya, mahluk apa sebenarnya filateli itu, prangko bagaimana mengoleksi dan menyimpannya, yang ternyata tidak semudah yang kita pikirkan sebelumnya," kata dia.

Baca: Hari Pertama Pensiun Budi Waseso Sibuk Cuci Mobil Berburu

Lemah dalam penguasaan ilmu filateli yang disebut Timbrology, akhirnya banyak pengumpul prangko Indonesia yang kecewa.

Dipikir bisa dapat uang banyak kalau mengumpulkan prangko ternyata malah merugi.

"Itulah akibat mengoleksi prangko tidak belajar dulu ilmu filatelinya. Pola pikir pun juga berbeda, disangka mengumpulkan prangko itu suatu investasi, padahal mengumpulkan prangko adalah tabungan, bukan investasi," jelas dia.

Halaman
12
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help