Pengamanan Berlapis Dikembangkan untuk Mendeteksi Kepemilikan Cryptocurency

Teknologi Cryptocurrency (CC) memang masih terus dikembangkan. Sekarang masih belum matang sehingga risiko masih tinggi.

Pengamanan Berlapis Dikembangkan untuk Mendeteksi Kepemilikan Cryptocurency
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Mike Belshe Ceo & co-Founder BitGo 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Teknologi Cryptocurrency (CC) memang masih terus dikembangkan. Sekarang masih belum matang sehingga risiko masih tinggi, namun keuntungan juga besar untuk yang bermain di industri CC ini.

"Teknologi CC memang masih terus dikembangkan, masih belum matang hingga kini. Itulah sebabnya risiko tinggi bermain di industri CC ini namun juga memberikan keuntungan yang cukup baik," ungkap Mike Belshe, CEO dan Founder BitGo kepada Tribunnews.com, Jumat (3/3/2018).

BitGo bermarkas di California Amerika Serikat yang didirikan 10 Mei 2011 lalu.

Tak heran dua kasus besar uang hilang dari transaksi CC baik BitCoin maupun 28 Januari 2018 kasus Coincheck yang kehilangan 58 miliar yen yang dicuri hacker tanpa jejak hingga kini.

Baca: Kronologis Dugaan Bagi-bagi Uang antara Pemkot Malang dan Mantan Ketua DPRD

"Dalam kasus BitCoin memang tak bisa apa-apa. Tetapi dalam kasus Coincheck untung saja mereka punya reservasi stok uang, sehingga sedikitnya bisa mengganti nasabahnya sebagian kehilangan uang mereka," kata Mark.

Namun dari dua kasus tersebut, Mark juga mengungkapkan upaya pembuatan pengamanan berlapis dan cara baru yang masih dikembangkan untuk nantinya dapat mendeteksi mata uang yang kita miliki.

"Ingat mata uang dolar AS kita. Tiap lembar uang kertas tersebut punya nomor seri. Jadi uang yang dirampok, asalkan kita tahu nomor seri uang kita yang dirampok, tentu suatu waktu muncul ke pasar, langsung terdeteksi, ketahuan kalau itu uang kita dan dapat segera menangkap penjahatnya," kata dia.

Pola pikir serupa sedang dibuatkan pula pada CC saat ini.

Halaman
12
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help