Menteri Jepang Yoshino: Kalau Bisa Menghindari Penggunaan Nuklir Belajar dari Kasus Fukushima

Yoshino memaparkan memang banyak korban terjadi saat ledakan tersebut sehingga banyak orang ratusan ribu yang terpaksa mengungsi

Menteri Jepang Yoshino: Kalau Bisa Menghindari Penggunaan Nuklir Belajar dari Kasus Fukushima
Richard Susilo
Menteri Rekonstruksi Masayoshi Yoshino (69) kelahiran Iwate Tohoku, lulusan Universitas Waseda 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Menteri Rekonstruksi Masayoshi Yoshino (69) kelahiran Iwate Tohoku, lulusan Universitas Waseda berharap belajar dari kasus ledakan nuklir di Fukushima 11 Maret 2011, kalau bisa menghindarkan penggunaan nuklir dan memperbanyak penggunaan pembangkit listrik tenaga terbarukan (alternatif) yang beresiko rendah.

"Belajar dari kasus ledakan nuklir Fukushima di masa lalu, kita harus menjauhkan kecelakaan nuklir agar tidak terjadi lagi dan meningkatkan penggunaan energi yang terbarukan ketimbang nuklir," paparnya sore, Rabu ini (7/3/2018) di Foreign Press Center di Uchisaiwaicho Tokyo.

Yoshino memaparkan memang banyak korban terjadi saat ledakan tersebut sehingga banyak orang ratusan ribu yang terpaksa mengungsi ke luar daerah Tohoku karena tercemar radiasi.

"Namun kini umumnya sudah kembali. Dari sekitar 470.000 orang yang mengungsi kini tinggal sekitar 75.000 orang yang belum kembali ke kampungnya lagi," paparnya lagi.

Pembangunan rumah untuk para warga setempat korban bencana alam dan ledakan nuklir tersbeut telah 90% dalam perkembangan pembangunan dan direncanakan Maret 2021 semua pembangunan rumah baru bagi warga setempat telah selesai sehingga semua orang dapat kembali lagi ke rumahnya masing-masing di Tohoku.

Relokasi tanah telah tercapai 14.000 unit atau 78% saat ini dan perumahan umum telah tercapai 27.000 unit atau 50% telah selesai pembangunannya.

"Kita juga berusaha mengobati trauma, masalah psikologis para korban, di samping juga berusaha mencarikan pekerjaan dan mendukung kehidupan sehari-hari warga setempat yang kembali datang ke kampung halamannya."

Mengenai radiasi menurut Yoshino telah menurun 74% dibandingkan saat ledakan terjadi tahun 2011.

Bahkan Yoshino memberikan data bahwa tingkat radiasi Iwaki kampung halamannya yang berada di selatan Fukushima, saat ini 0,06 micro sievert per jam atau sama dengan radiasi yang ada di New York.

Singapura bahkan terlihat tinggi 0,1 micro sievert per jamnya, lebih tinggi radiasinya ketimbang Minami Soma yang berada di selatan Fukushima juga, Aizuwakamatsu, Shirakawa dan Minamiaizu.

Radiasi di Tokyo sendiri sebesar 0,04 microsievert per jam per 1 Agustus 2017.

“Bukti sudah kembali pulih tersebut dengan jauh semakin banyak masyarakat setempat kembali ke kampong halamannya dan kembali berkarya dengan semngat untuk membangun kampong halamannya lebih lanjut saat ini,” jelasnya.

Pembangunan sekolah dan berbagai fasilitas untuk umum pun ditingkatkan lebih lanjut untuk melayani masyarakat yang kembali masuk ke kampong halamannya saat ini.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help