Satu Gerbong KA Jepang 10 Juta Yen, Seri 205 Sebanyak 336 Gerbong Bisa Masuk Indonesia Tahun 2020?

Selama ini tidak ada masalah dengan Indonesia, semua tersalurkan dengan baik.

Satu Gerbong KA Jepang 10 Juta Yen, Seri 205 Sebanyak 336 Gerbong Bisa Masuk Indonesia Tahun 2020?
Richard Susilo
Musashino Line yang menggunakan seri 205 (sejak 1985) terkenal di Jepang, kini banyak yang diboyong ke Jakarta. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Sejak 6 tahun lalu penjualan kereta api bekas Jepang tidak pernah berubah harga. Satu gerbong kereta api bekas dijual kepada Indonesia 10 juta yen atau saat ini sekitar 1,3 miliar rupiah. Harga ini sampai dengan pelabuhan di Jepang dan dari pelabuhan Jepang ke Indonesia ditanggung biaya pihak Indonesia.

"Selama ini tidak ada masalah dengan Indonesia, semua tersalurkan dengan baik. Namun yang jadi pertanyaan kami apakah kereta api seri 205 bisa masuk Indonesia tahun 2020 dengan baik?" tanya sumber Tribunnews.com dari perkeretaapian Jepang Rabu ini (7/3/2018).

Mengapa ada pertanyaan seperti itu? Ternyata banyak pihak kereta api Jepang selama ini memperhatikan semua peraturan transportasi yang ada di Indonesia.

Tahun 2019 menurut peraturan ketentuan hukum Indonesia, mobil yang telah 30 tahun sudah tak bisa lagi dipakai di Indonesia, alias dilarang digunakan.

"Apakah ketentuan tahun 2019 tersebut akan berlaku juga bagi kereta api Jepang seri 205 yang usianya juga sudah lebih dari 30 tahun?" tambahnya.

Kereta api Jepang seri 205 pertama kali muncul tahun 1985 yang berarti sudah berusia 33 tahun saat ini.

Kontrak pembelian 336 gerbong kereta api seri 205 tersebut baru akan sepenuhnya sampai ke Indonesia, sesuai jadwal tahun 2020 berarti sudah lewat dari tahun 2019.

Hal itulah yang membuat kekuatiran pihak Jepang apakah nantinya akan ada masalah atau tidak ke Indonesia karena baru bisa masuk ke Indonesia keseluruhannya melewati tahun 2019.

Selain itu penjualan gerbong yang hanya 10 juta yen bagi orang Jepang dianggap tak ada nilainya atau tidak menguntungkan bagi Jepang.

Halaman
12
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help