Profesor dan Kritikus Jepang Terkenal Meninggal Bunuh Diri, Namun Masih Ada yang Curiga Dibunuh

Polisi telah menyelidiki kasus ini, ada dugaan kuat dia bunuh diri mendapat bantuan

Profesor dan Kritikus Jepang Terkenal Meninggal Bunuh Diri, Namun Masih Ada yang Curiga Dibunuh
Richard Susilo
Profesor Susumu Nishibe (79) mantan pengajar Universitas Tokyo kelahiran Oshamanbe Hokkaido 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS Tokyo - Polisi Metropolitan Tokyo menduga bahwa profesor dan kritikus Jepang terkanal Susumu Nishibe (79) mendapat bantuan dalam mengambil nyawanya (bunuh diri) di bulan Januari 2018 dengan terjun ke Sungai Tama.

"Polisi telah menyelidiki kasus ini, ada dugaan kuat dia bunuh diri mendapat bantuan dan atau nasehat dari orang lain," papar sumber Tribunnews.com Jumat ini (16/3/2018).

Pada pagi hari tanggal 21 Januari, anak laki-laki Nishibe yang berusia 48 tahun memberi tahu layanan darurat, dengan mengatakan ayahnya melompat ke sungai di daerah Denenchofu , Ota-ku Tokyo.

Personil yang tiba di tempat kejadian menemukan mayat di sungai. Pria yang kemudian diidentifikasi sebagai Nishibe, dipastikan meninggal di rumah sakit sekitar dua jam kemudian. Penyebab kematian diyakini telah tenggelam.

Polisi Denenchofu percaya bahwa Nishibe dengan sengaja mengambil nyawanya dengan melompat ke sungai.

Dalam perkembangan terakhir, polisi pada hari Rabu (14/3/2018) mengungkapkan bahwa Nishibe menderita masalah neurologis yang mencegahnya melakukan beberapa aspek karyanya.

Ketika tubuh Nishibe ditemukan, kedua tangannya terikat pada tali yang ditempelkan di pohon di tepi sungai. Selanjutnya, mulutnya, yang dibungkus kain, berisi botol kecil.

Mengingat cacatnya, polisi meyakini seseorang membantu kritikus dalam mengambil nyawa dirinya tersbeut.

Mantan profesor di Universitas Tokyo ini sering tampil dalam program debat, termasuk "Asamade Nama TV!" Di TV Asahi.

Halaman
123
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help