Jepang Tekankan Ekspor Pertaniannya, Masukan Teknologi dan Penggunaan IT Agar Menarik Bagi Pemudanya

Pola pikir tersebut akan kita reformasikan, kita ubah total agar para pemuda kembali menekankan pertanian.

Jepang Tekankan Ekspor Pertaniannya, Masukan Teknologi dan Penggunaan IT Agar Menarik Bagi Pemudanya
Richard Susilo
Jepang Tekankan Ekspor Produksi Pertaniannya, Masukan Teknologi dan Penggunaan IT Agar Menarik Bagi Pemudanya 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, Tokyo - Menteri Pertanian Kehutanan dan Perikanan Jepang Ken Saito (58) memang mengakui bahwa anak muda Jepang masih kurang tertarik masuk bidang pertanian karena seolah tak ada masa depannya dan tak ada yang menarik, tak ada banyak tandatangan untuk dikerjakan serta tak menguntungkan.

"Pola pikir tersebut akan kita reformasikan, kita ubah total agar para pemuda kembali menekankan pertanian. Oleh karena itu perlu penggunaan beberapa hal termasuk mengikutsertakan para ahli pertanian ke dalam tim pembangkitan dnia pertanian Jepang saat ini," papar Menteri Saito sore ini, Senin (19/3/2018).

Pertanian Jepang mulai sekarang dirombak dengan target meningkatkan ekspor produk pertanian lebih besar lagi antara lain mendayagunakan para shosha (perusahaan perdagangan besar Jepang) agar produk pertanian Jepang bisa tembus ke pasar luar negeri.

"Di lain pihak perusahaan Jepang juga harus lebih kreatif seperti yang dilakukan anak perusahaan AEON yaitu Aeon Agriculture dan kini banyak anak muda mulai memasuki perusahaan tersebut."

Dunia pertanian Jepang saat ini terkendala sekali dengan jumlah manusia yang jauh sangat merosot drastis sehingga menghambat pertanian Jepang.

Namun dengan teknologi yang ada misalnya pemanfaatan Drone yang dikendalikan jarak jauh pakai alat remote control, banyak yang bisa dilakukan misalnya untuk penyemprotan udara anti hama dan sebagainya.

"Penggunaan teknologi maju saat ini, pemanfaatan IT semua itu diharapkan dapat menarik perhatian kalangan pemuda Jepang. Tentu saja dari pemerintah juga ada insentif bagi pemuda Jepang yang memasuki bisnis pertanian akan ada sumbangan dana khusus bantuan bagi pertanian dan sebagainya."

Menteri Saito juga mencontohkan keberhasilan perusahaan shoyu (seperti kecap asin Jepang) Kikkoman yang berhasil menembus puluhan negara di dunia bahkan buka pabrik di Eropa.

"Perusahaan Jepang itu berhasil menembus pasar berbagai negara lewat berbagai supermarket yang ada baik di Asia, Eropa dan Amerika Serikat sehingga kini menjadi produk dunia. Pertanian Jepang juga harus punya semangat seperti Kikkoman sehingga bisa menembus berbagai pasar dunia yang selama ini petani Jepang tampaknya belum berpikir untuk mengekspor produk pertanian sehingga kini seperti terasa hal yang baru bagi para petani Jepang dengan kebijakan ekspor produk pertanian," jelasnya lagi.

Banyak sekali yang bisa diekspor dari Jepang.

"Bahkan sebuah perusahaan Jepang berhasil membuka 28 toko onigiri di HongKong dan mengekspor sekitar 4000 kilogram beras dari Jepang ke Hongkong dan menjual onigirinya satunya sekitar 400 yen, pembelinya antri di HongKong. Bahkan dalam tahun 2020 rencana membuka 200 toko di HongKong hanya untuk menjual Onigiri saja dengan beras dari Jepang."

Keberhasilan-keberhasilan para pengusaha Jepang itu diharapkan bisa ditiru oleh para petani Jepang dengan dibantu para anak mudanya dan para ahli pertanian termasuk ahli marketing pemasaran dunia untuk ekspor yang lebih baik bagi produk pertanian Jepang yang baik-baik saat ini, di tengah "boom" makanan Jepang saat ini di luar negeri, tekannya lebih lanjut.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help