Kredibilitas Badan Pensiun Jepang Dipertanyakan Sejak 2007, Penuh Skandal Besar

Mayoritas orang Jepang gagal mengenali betapa pentingnya kartupos balasan tersebut.

Kredibilitas Badan Pensiun Jepang Dipertanyakan Sejak 2007, Penuh Skandal Besar
Richard Susilo
CEO Say Kikaku, Seiichi Kirita 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO -  Selasa lalu (20/3/2018) CEO  Badan Pensiun Jepang (JPO) Touichiro Mizushimameminta maaf sedalamnya kepada masyarakat karena gagal mengelola data masyarakat dengan baik, bocor ke Dahlian China. Kredibilitas JPO sebenarnya sudah berskandal besar, dipertanyakan sejak tahun 2007.

"Pada bulan Mei 2007,   pemerintah Jepang mengumumkan  bahwa sekitar 50 juta rekaman data sosial pensiun keamanan mengambang, belum diintegrasikan ke dalam individu yang bersatu untuk nomor identifikasi pensiun. Salah urus ini menjadi skandal nasional, sehingga memnjatuhkan kabinet Shinzo Abe pertama dalam pemilihan majelis tinggi Juli 2007 dan Abe mengundurkan diri dengan alasan kesehatan bulan September 2007," papar Noriyuki Takayama pengamat spesialis pensiun Jepang.

Saat itu ditemukan pegawai negeri Jepang yang bekerja di JPO melakukan korupsi, pembayar uang pensiun mendapat tanda terima pembayaran tetapi aspal (asli tapi palsu), uangnya masuk kantong pribadi koruptor di JPO.

Baca: Inikah Kejutan Milla? Ezra Walian-Zulfiandi Main di Babak Pertama

Kemudian September 2008, pemerintah Jepang juga mengumumkan bahwa 69.000 catatan gaji telah terjadi penggantian karena kemungkinan kesalahan catatan laporan dari karyawan  sejak 1 April 1986.

Skema tertua bicara sistim pensiun Jepang bermula sejak tahun  1884, sekitar 134 tahun lalu. Kemudian skema berikutnya terjadi pada tahun 1961.

Sebelum Januari 1997, nomor identifikasi pensiun dikeluarkan untuk setiap peserta di daerah tertentu untuk program pensiun dan nomor berubah apabila pindah ke daerah lain.

Itulah sebabnya ada kemungkinan  seorang Jepang memiliki dua atau lebih nomor identifikasi pensiun sebelum pensiun.

Baru pada Januari 1997 itu nomor disatukan. Per orang hanya ada stau nomor, tak peduli dia tinggal di mana pun.

Halaman
1234
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help