Mantan Astronot Wanita Jepang Pertama: Kehidupan Manusia Mungkin Lebih Panjang di Luar Angkasa

Memang sudah diperkirakan dengan penilian dunia yang ada kemungkinan besar usia manusia bisa lebih panjang

Mantan Astronot Wanita Jepang Pertama: Kehidupan Manusia Mungkin Lebih Panjang di Luar Angkasa
Richard Susilo
Chiaki Mulai MD, PhD, Wakil Rektor Universitas Sains Tokyo, mantan astronot wanita Jepang pertama. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Perkiraan Albert Einstein di masa lalu adalah kemungkinan usia manusia lebih memanjang apabila berada di luar angkasa bukanlah jadi isapan jempol belaka saat ini.

"Memang sudah diperkirakan dengan penilian dunia yang ada kemungkinan besar usia manusia bisa lebih panjang bila berada di luar angkasa dengan gravitasi yang merangsang pertumbuhan sel baru semakin segar manusia itu sendiri," papar Chiaki Mulai MD, PhD, 65, Wakil Rektor Universitas Sains Tokyo, mantan astronot wanita Jepang pertama khusus kepada Tribunnews.com Rabu ini (28/3/2018).

Penelitian itu memang tampaknya masih terus dilakukan para saintis dunia. Namun dengan kemajuan teknologi ruang angka saat ini dan penelitian berbagai macam hal di luar angka, hal itu bisa menjadi kenyataan di masa mendatang.

"Kami sendiri sedang meneliti dan mengembangkan kemungkinan koloni luar angkasa, supaya manusia nantinya bisa berkoloni hidup bersama di luar angkasa," tambahnya lagi.

Olehkarena itu berbagai kelengkapan untuk bisa hidup di luar angkasa, mislanya di Bulan, sedang dipersiapkan dengan berbagai penelitian yang dilakukannya di Universitas Sains Tokyo terutama di dalam proyek Interdiciplinary (antar disiplin ilmu) Research Center for Space Colony (RCSC)tahun dari kementerian pendidikan Jepang saat ini untuk masa 5 tahun sampai dengan tahun 2022.

"Setelah selesai dana bantuan itu ya coba kita ajukan lagi. Yang pasti kita akan jalan terus dan mungkin dengan bantuan pihak swasta juga, meminta pengertian dan kerjasama dari pihak perusahaan swasta yang tertarik dan ternyata sudah ada beberapa yang tertarik saat ini dengan penelitian kami seperti Takenaka Construction," lanjutnya.

Proyek RCSC ini terbagi ke dalam empat tim yang semuanya dari kalangan Master beragai disiplin ilmu dan akan kerjasama juga dengan sebuah kelompok Konsorsium yang juga akan beranggotakan para perusahaan Jepang sebagai penyandang dana.

"Saat ini memang telah ditemukan air di bulan dan di daerah tersebutlah akan difokuskan penelitian manusia di bulan. Apakah nantinya air itu bisa diminum langsung manusia atau diolahterlebih lanjut, masih terus di dalam penelitian. Kita mencari tempat yang bisa menunjang dan mempermudah kehidupan manusia di bulan."

Mukai sangatlah senang sekali saat terpilih menjadi astronot wanita pertama dari Jepang saat berusia 30 tahun, yang sebelumnya sama sekali tak terpikirkan olehnya.

"Saya dulu usia 9 tahun memang tertarik kepada dunia luar angkasa. Tapi Jepang kan negeri yang terlambat, ah, tak mungkinlah Jepang bisa seperti Amerika Serikat. Begitu pikir saya masih anak-anak. Tapi perhatian tersebut terus saja tertanam sehingga akhirnya saat ada kesempatan melamar untuk menjadi astronot, akhirnya terpilih juga dan kaget juga."

Diakuinya dari penelitian dan seleksi manusia yang ke bulan ternyata memang daya tahan tubuh manusia wanita tampaknya lebih kuat ketimbang pria, ungkapnya lagi menceritakan bagaimana dia bisa terpilih jadi astronot.

Sejak saat itu sampai kini Mukai masih menjadi Penasehat Senior Astronot untuk badan luar angkasa Jepang (JAXA) di samping juga Wakil Rektor Universitas Sains Tokyo.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help