Penelitian Jepang, Penggunaan In-Plasma dan Photocatalyst Menjadikan Tumbuhan Lebih Cepat dan Bersih

Asal ide penelitian ini sebenarnya dari sambaran petir yang menghantam tumbuhan atau padi

Penelitian Jepang, Penggunaan In-Plasma dan Photocatalyst Menjadikan Tumbuhan Lebih Cepat dan Bersih
Richard Susilo
Chiaki Terashima, PhD (48), Assocoate Professor Universitas Sains Tokyo. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Penggunaan in-plasma di dalam cairan (liquid) dan photocatalyst ternyata bisa semakin mempercepat pertumbuhan tanaman atau buat atau umbi-umbian seperti kentang dan juga semakin membuat tumbuhan itu bersih, tidak tercemar hal-hal yang mengotori sekelilingnya.

"Asal ide penelitian ini sebenarnya dari sambaran petir yang menghantam tumbuhan atau padi sekalipun yang ada di bumi. Di Jepang disebut Inazuma, Ina berarti Padi dan Zuma berarti Isteri. Dari Inazuma atau juga berarti petir atau kaminari, tumbuhan itu tumbuh cepat berkembang dan bagus indah akhirnya. Dari sanalah muncul penelitian lebih lanjut dan kita temukan in-plasma di dalam cairan (air)," jelas Chiaki Terashima, PhD (48), Assocoate Professor Universitas Sains Tokyo khusus kepada Tribunnews.com Rabu ini (28/3/2018).

Dari hasil penelitian yang dilakukan Terashima, ternyata memang tumbuhan tersebut terutama kentang menjadi cepat tumbuh dengan baik dan sekelilingnya juga bersih, tidak tumbuh jamur dan sebagainya.

"Penelitian menunjukkan setelah 90 menit dan bahkan dua jam dan seterusnya, penggunaan in-plasma di dalam air beserta juga photocatalyst ternyata membuat tumbuhan semakin cepat tumbuh dengan baik dan bagian sekitarnya yang biasanya tumbuh jamur atau kotoran yang lain jadi hilang dan tumbuhan tetap tumbuh dengan baik," tambahnya.

Hasil penelitian ini dianggapnya sebagai penelitian alamiah tak mengaitkan bahan kimia seperti petir menyambar padi sehingga padi tumbuh dengan cepat baik dan besar indah tak tercemar kotoran di sekitarnya.

"Jadi hasil tumbuhan itu, misalnya Kentang, bisa dimakan manusia dengan aman tidak berbahaya karena memang semua berjalan dengan alamiah tidak ada bahan kimia. Plasma yang terjadi dalam air adalah hasil percikan friksa antar gas N2 yang berbenturan di dalam air membentuk plasma."

Mengapa penelitian melakukan kentang?

"Kita mengetahui kalori kentang cukup tinggi dan itu dibutuhkan untuk makanan di luar angkasa bagi manusia. Penelitian di Universitas Sains Tokyo ini dipersiapkan umumnya untuk penelitian di luar angka oleh manusia dan bagaimana bisa mempertahankan hidup manusia itu dengan baik, harus makan yang berkalori. Itulah salah satunya adalah kentang."

Dari pengalaman Mukai sebagai astronot saat meluncur ke bulan, diberitakan persediaan sekitar 300 jenis makanan ada di dalam ruang astronotnya dipersiapkan sipaya dia bisa hidup selama beberapa minggu di luar angkasa.

"Perjalanan ke bulan dari bumi hanya tiga hari saja jadi sebenarnya tidak lama dan itu bisa menjadi bisnis tersendiri. Saya mau deh sebagai pramugarinya kalau ada tur ke bulan nantinya, kjhususnya sebagai perawat karena saya dokter," papar Mukai.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help