24% Perusahaan Jepang Berskala Kecil Sangat Lemah Dalam Kontrak Hanya Ikuti Kemauan Rekan Bisnisnya

Badan tersebut melakukan penelitian Desember lalu lewat internet dan ditanggapi oleh 8256 orang yang memiliki perusahaan sendiri di Jepang.

24% Perusahaan Jepang Berskala Kecil Sangat Lemah Dalam Kontrak Hanya Ikuti Kemauan Rekan Bisnisnya
Richard Susilo
Hasil survei badan penelitian dan kebijakan tenaga kerja Jepang di mana 24% ternyata perusahaan Jepang ternyata sangat lemah dalam kontrak bisnis 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Badan penelitian dan kebijakan tenaga kerja yang berada di bawah Kementerian Tenaga Kerja Jepang mengungkapkan bahwa 24% perusahaan sendiri (para Usaha Kecil) yang dilakukan warga Jepang ternyata memiliki kontrak tetapi yang dibuat oleh konsumen atau rekanan usahanya.

"Hal ini menunjukkan perusahaan Jepang yang dilakukannya sendiri itu (jiegyo atau perusahaan kecil) cukup lemah dalam berbisnis di Jepang karena kontrak yang ada diatur oleh rekanan usahanya atau konsumennya," ungkap sumber Tribunnews.com Kamis ini (29/3/2018).

Badan tersebut melakukan penelitian Desember lalu lewat internet dan ditanggapi oleh 8256 orang yang memiliki perusahaan sendiri di Jepang.

Dari jumlah responden tersebut sebanyak 6329 perusahaan kecil Jepang mengakui punya kontrak dengan rekanan usahanya.

Sebanyak 47,37% mengakui kontrak yang tercapai itu dilakukan setelah tercapai kesepakatan bersama.

Sementara itu 24%, menyatakan bahwa kontrak yang tercapai biasanya dilakukan oleh pihak "sana" rekanan usahanya yang membuatkan dan memutuskan sehingga 24% perusahaan kecil itu biasanya mengikuti saja.

Sebanyak 4116 responden kemudian menyatakan, kebanyakan mereka mengalami masalah dalam menjalankan kontraknya dengan rekanan bisnisnya tersebut.

Masalah yang ada misalnya mendadak mengubah isi dari pekerjaan, cakupan kerja berubah, tanggal pengiriman berubah dan sebagainya.

Survei juga mengungkapkan bahwa jumlah penerimaan perusahaan kecil di Jepang tidak sedikit yang hanya menerima kurang dari dua juta yen per tahun terkait kontrak kerja tersebut.

"Itulah sebabnya kita akan melakukan penyelidikan lebih lanjut bagaimana bisa lebih memperkuat perusahaan kecil Jepang saat ini agar mereka bisa lebih baik dan lebih kuat lagi dalam berbisnis," ungkapnya lebih lanjut.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved