Jepang Harus Ajak Masyarakat Eropa Bernegosiasi dengan Amerika Serikat

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe akan bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Amerika Serikat, tanggal 17 dan 18 April mendatang.

Jepang Harus Ajak Masyarakat Eropa Bernegosiasi dengan Amerika Serikat
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Masahiko Hosokawa (63) Profesor Pengajar di Chubu University dan Chukyo University, penasihat kebijakan Perfektur Aichi, lulusan Harvard Business School, mantan Direktur Markas Besar Polisi Perfektur Yamagata, mantan pegawai METI Jepang. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe akan bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Amerika Serikat, tanggal 17 dan 18 April mendatang.

Kedua kepala negara ini akan membicarakan berbagai hal termasuk masalah perdagangan (ekonomi) dan juga Korea Utara. Namun Jepang dianggap lemah jika bicara dengan AS.

"Jepang kalau bicara perdagangan khususnya jangan hanya dengan AS saja, itu akan lemah dan biasanya Jepang akan mengiyakan saja, kebanyakan dari pihak kementerian luar negerinya," ungkap Masahiko Hosokawa (63), profesor pengajar di Chubu University dan Chukyo University, Jumat (30/3/2018).

Masahiko Hosokawa adalah penasihat kebijakan Perfektur Aichi, lulusan Harvard Business School, mantan Direktur Markas Besar Polisi Perfektur Yamagata serta mantan pegawai METI Jepang.

Baca: Oknum Polwan Polrestabes Medan Dipolisikan Diduga Jual Mobil Bodong

Dalam sejarah pembicaraan Abe dengan Trump sebelumnya Jepang hanya mengiyakan saja permintaan Trump, misalnya AS meminta Jepang lebih banyak lagi membeli mobil dari AS serta permintaan lain.

"Pembicaraan ekonomi perdagangan yang paling besar kedua negara umumnya kepada perdagangan mobil, ekspor impor mobil kedua negara yang menghasilkan devisa cukup besar bagi Jepang," kata dia.

Namun dalam diplomasi ke luar negeri, umumnya kalangan kementerian luar negeri yang maju dan in-charge, bertanggungjawab serta koordinasi kepada pembicaraan kedua negara.

Namun dari pihak Kementerian Ekonomi Perdagangan dan Industri Jepang (METI) biasanya agak alot dan tak mau menerima begitu saja permintaan AS tersebut di berbagai bidang.

"Kalau diplomasi dan pembicaraan dengan negara lain terutama dengan pihak AS biasanya Kemlu yang dikedepankan. Tapi Kemlu Jepang lemah sekali, biasanya ikut saja apa yang diminta AS karena tak mau terjadi friksi. Sehingga sulit bilang "no" kepada pihak AS. Sedangkan personaliti kedua kementerian juga berbeda antara Kemlu dan METI," ungkapnya.

Baca: Tetes Air Mata Deisti Tak Terbendung ketika Jaksa Menuntut Setya Novanto 16 Tahun Penjara

Seharusnya Jepang dalam diskusi perdagangan mengajak Eropa, meminta Eropa juga menekan AS di bidang perdagangan seperti Itali, Jerman dan Perancis.

"Kalau Jepang bisa mendekati Eropa tiga negara tersebut, mereka yang akan menekan AS, maka Jepang akan kuat pula karena selama ini negosiasi dagang Jepang dengan pihak Eropa juga melakukan hal yang serupa, agar transaksi perdagangan balance antar kedua negara," ujar dia.

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help