Awal Mula Yakuza Jepang Masuk ke Indonesia

Kunjungan Soekarno pribadi pun ke Tokyo tak lepas dari bodyguard para yakuza sekitar 8 orang

Awal Mula Yakuza Jepang Masuk ke Indonesia
Richard Susilo
Seorang mantan bos Yakuza Sugawara Ushio (53) dengan tato lengkap di bagian belakang badannya, lambang kabuki, yang lemah dibantu yang kuat bersaing. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Tidak sedikit orang bertanya kapan mafia Jepang (yakuza) masuk ke Indonesia. Kepastiannya memang tidak ada tetapi yang jelas mulai memasuki Indonesia sejak pemerintahan Soekarno terutama saat Presiden  Soekarno menikahi Ratna Sari Dewi Soekarno (75) tahun 1962.

"Soekarno sangat kepincut dengan Dewi yang sangat cantik tentu saja saat itu sebagai seorang hostes di Ginza Tokyo," ungkap sumber Tribunnews.com Senin ini (9/4/2018).

Setelah bertemu dan jatuh cinta saat menghadiri perayaan ulang tahun kemerdekaan RI di Hotel Imperial Tokyo, langsung Soekarno memintanya bertemu untuk diajak makan bersama dua hari kemudian yang ditemani Sekretaris Presiden Soekarno saat itu.

Kunjungan Soekarno pribadi pun ke Tokyo tak lepas dari bodyguard para yakuza sekitar 8 orang yang melindungi Soekarno dari adanya ancaman pembunuhan DI/TII yang rencana akan dilakukan di Tokyo.

Tapi berkat perlindungan Yakuza selama kunjungan di Jepang, Soekarno pun selamat dan dijauhkan dari teror dan ancaman pembunuhan.

Pejabat tinggi Jepang seorang menteri meminta yakuza menjaga Soekarno saat datang ke Jepang kapasitas pribadi untuk menemui Dewi.

Hasil kunjungan yang sukses itu atas bantuan yakuza Jepang, membuat hubungan Soekarno dengan Yakuza juga semakin baik.

"Layaknya take and give saling bantu-membantu, saat yakuza Jepang ke Indonesia dibantu pula oleh Soekarno dengan baik. Dari sanalah mulai masuk para yakuza ke Indonesia."

Bahkan sampai kini ada satu orang mantan yakuza yang bermukim sudah puluhan tahun di Jakarta, memiliki saham di rumah sakit terkenal, punya restoran dan berbagai usaha lain hingga saat ini.

Halaman
12
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help