Deutsche Welle

Semangat Merdeka dalam Konferensi Asia-Afrika

Konferensi Asia Afrika 1955 dukung hak bagi setiap bangsa untuk merdeka, anti-kekerasan dan musyawarah dalam mencapai kesepakatan.…

Jika saja pasukan merah dari USSR tidak menghabisi fasisme di Jerman, maka tidak ada lagi yang mampu menyelamatkan sosial-demokrasi dari Jerman dan seluruh daratan Eropa. Sejak berakhirnya perang dunia kedua dan kalahnya fasisme Hitler di Jerman, politik dunia menjadi lebih semarak. Ide tentang nasionalisme dan anti-kolonialisme menyebar seperti cendawan di musim hujan.

Istilah negara dunia pertama, kedua dan ketiga yang sering diadopsi oleh banyak orang pada hari ini bersumber pada kejadian-kejadian pasca perang dunia kedua dan selama perang dingin berlangsung.

Polarisasi kekuatan terbentuk dari dunia pertama, kubu Amerika pemenang perang dunia kedua dan sekutunya yang dicirikan oleh ideologi "kapitalisme Barat” dan dunia kedua yang berhasil menyebarkan ide ke seluruh dunia tentang gerakan massa dan keadilan ekonomi-sosial dilandasi ideologi "komunisme-sosialisme” oleh Uni Soviet Rusia yang juga berhasil menghancurkan fasisme Hitler.

Dunia ketiga adalah kekuatan politik baru yang sedang mencari bentuk akibat dari meletusnya gelombang revolusi anti-kolonialisme di berbagai wilayah berbasis teritorial. Sebut saja Indonesia, India, Mesir, Myanmar, Sri Lanka dan kawan-kawan yang nanti akan bergabung untuk menunjukan dirinya hadir dalam konstetasi politik global melalui konferensi Asia-Afrika pada April 1955.

Kondisi Dalam Negeri sebelum Konferensi

Sebuah konferensi tidak berlangsung satu-dua hari lalu selesai tandatangan seperti ketika Soekarno-Hatta menyatakan kemerdekaan Indonesia melalui proklamasi lalu tiba-tiba seluruh bagian dari Indonesia merdeka.

Dalam setiap perjuangan baik deklarasi kesepakatan atau penandatanganan ada proses yang berlangsung secara terus menerus. Kemerdekaan Indonesia setelah proklamasi 1945 baru diakui oleh Belanda pada tahun 1949 setelah melalui rangkaian diplomasi dan perjuangan terus menerus. Indonesia yang saat itu baru saja lepas dari bentuk Republik Indonesia Serikat (RIS) menghadapi beberapa masalah internal yang membutuhkan keputusan bijak. Di mana keputusan bijak untuk menyelesaikan masalah internal tersebut sangat dipengaruhi oleh kekuatan luar dari negara ‘seumur jagung ini'.

Permasalahan-permasalahan internal pertama adalah isu kedaulatan teritorial seperti Irian Barat, negara-negara bagian yang belum menyatakan bergabung dengan RI. Kedua, ekonomi morat-marit yang terjadi akibat pemberlakuan mata uang baru yang menyebabkan gesekan antara pusat dan daerah yang menuntut desentralisasi atau menentang pemerintahan pusat sama sekali, isu nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda yang diwarisi oleh orang Cina (kala itu orang Cina masih dwikewarganegaraan) memantik kesenjangan ekonomi yang memicu isu rasisme. Ketiga upaya profesionalisasi Tentara Nasional Indonesia yang berupa pengurangan jumlah anggota dan upaya untuk terlibat dalam politik nasional.

Sedangkan dalam tingkat global, pengakuan Republik Indonesia sebagai wilayah baru yang berdaulat secara teritorial dan ekonomi dipertaruhkan. Perang dingin yang menjadi latar global memicu kekuatan alternatif untuk berdaya. Amerika sempat mengundang perdana menteri Amir Syariffudin dalam pertemuan di Kolombo bersama-sama dengan Myanmar, Pakistan, Sri Langka dan India untuk menjadi bagian aliansi militer Amerika Serikat bersama dengan Thailand dan Filipina. Ide tersebut ditolak oleh perwakilan negara-negara. Di sisi lain, Uni Soviet Rusia yang telah menyatakan dukungan dan pengakuan terhadap Indonesia baik di PBB dan secara langsung. Walau begitu Republik Indonesia berada dalam ketetapannya untuk tidak memihak negara-negara adikuasa.

Setidaknya ada 25 negara-negara baru di Asia-Afrika yang diundang dengan semangat awal yang sama: menentang kolonialisme, imperialisme dan rasaisme. yakni Afghanistan, Kamboja, Arab Saudi, Republik Rakyat Tiongkok, Irak, Iran, Laos, Lebanon, Yordania, Liberia, Mesir, Vietnam Selatan, Vietnam Utara, Suriah, Turki, Thailand, Yordania, Sudan Nepal dan Jepang. Negara-negara tersebut banyak berhaluan sosialis dan nasionalis dan yag menjadi janggal adalah keberadaan Jepang yang jelas-jelas tergabung dalam kekuatan negara dunia pertama. Jepang berdalih, keberadaannya merupakan representasi dari semangat Asia Pasifik.

Baca juga:

Halaman
123
Sumber: Deutsche Welle
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved