Bus Otomatis Tanpa Pengemudi Sistem Perancis Pertama Kali Dipakai Praktis di PLTN Fukushima Jepang

Inilah bus pertama yang dipakai secara praktis sesungguhnya di sebuah tempat di Jepang.

Bus Otomatis Tanpa Pengemudi Sistem Perancis Pertama Kali Dipakai Praktis di PLTN Fukushima Jepang
NHK
Mobil otomatis tanpa sopir dengan sistim Navya (Perancis) mulai dipakai praktis di PLTN Fukushima sejak Rabu ini (18/4/2018) 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS, TOKYO - Bus Otomatis tanpa pengemudi, pertama kali dipakai praktis dioperasikan mulai Rabu ini (18/4/2018) di dalam kompleks pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima Jepang dengan sistim dari Perancis (Navya).

"Kami ingin memperkenalkan teknologi baru untuk mempromosikan keselamatan dan kelancaran tungku limbah di kompleks PLTN Fukushima mulai hari Rabu ini," papar Direktur Komunikasi Fukushima Daiichi Decommissioning Tepco, Tomonori Kobayashi, Rabu ini (18/4/2018).

Mulai Rabu ini seluruh karyawan bertransportasi menggunakan bus otomatis tersebut tanpa sopir dengan perjalanan radius sekitar satu kilometer.

Bus berputar di sekitar kompleks PLTN dan daerah skeitarnya untuk mengantar para karyawan PLTN bepergian dari rumah ke kantornya, ke bagian masing-masing.

Kecepatan Bus maksimum 18 km memiliki sensor untuk merasakan hambatan dipasang jalan dengan jumlah kursi 15 tempat duduk.

Dengan sensor yang ada dan penggunaan GPS, bis bisa mendeteksi semua hambatan di sekitarnya, termasuk menghindarkan penyeberang jalan, serta berhenti secara otomatis di lokasi-lokasi pemberhentian bus yang telah ditentukan.

Bus ini proyek perjalanannya akan dikembangkan diperluas di kemudian hari, tambah Kobayashi lebih lanjut.

Inilah bus pertama yang dipakai secara praktis sesungguhnya di sebuah tempat di Jepang.

Selama ini uji coba banyak dilakukan di berbagai tempat di Jepang, namun yang digunakan untuk keperluas praktis sesungguhnya dan dilakukan (dipraktekkan) setiap hari pertama kali di Jepang adalah bus Navya ini yang diberi nama Hamakaze-E.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help