Mengenal Sekolah Nampa di Jepang Ujung-ujungnya Berhubungan Seks

Nampa adalah salah satu budaya Jepang yang masih baru dimulai sekitar tahun 1980.

Mengenal Sekolah Nampa di Jepang Ujung-ujungnya Berhubungan Seks
Richard Susilo
Keramaian di stasiun Ikebukuro Tokyo mulai banyak wanita cantik lalu lalang kesempatan buat nampa. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Budaya Jepang terkenal malu-malu kucing. Baik laki dan wanita saling sungkan, malu untuk menegur. Tidak ada kebiasaan menegur orang yang tidak dikenalnya. Di jaman lampau Jepang, hal itu (menegur satu sama lain yang tak dikenal) hanya dilakukan di daerah lokalisasi pelacuran saja.

Namun sejak tahun 1980-an dengan ekonomi gelembung (bubble economy), muncul diskotik di mana-mana, muncullah keberanian teguran satu sama lain terutama di daerah hiburan. Teguran untuk menggoda merayu, berujung ngeseks. Itulah Nampa dan semakin meluas hingga kini di mana-mana di Jepang.

Nampa adalah salah satu budaya Jepang yang masih baru dimulai sekitar tahun 1980. jadi baru sekitar 38 tahun, dan tidak ada terjemahan kata Nampa untuk bahasa Inggris atau bahasa lainnya, sehingga kata Nampa menjadi populer pula di mana pun di dunia ini.

Tribunnews.com mulai menyelidiki soal Nampa beserta sekolahnya sejak beberapa tahun terakhir ini dan semakin lama semakin berani menonjolkan diri yang tadinya berada di dunia "bawah tanah" enggan ke luar, enggan memperkenalkan diri orang yang suka melakukan nampa.

Sebagai catatan, Nampa hanya dari Lelaki ke Wanita. Sebaliknya kalai wanita yang melakukan rayuan godaan ke lelaki dinamakan Gyakunan, atau Gyaku Nampa (kebalikan nampa).

Beberapa sekolah nampa bermunculan di Jepang dan rata-rata sama, bukan sekolah berbentuk fisik seperti sekolah yang ada biasanya, tetapi menggunakan nama Sekolah saja agar keren, karena ini juga bagian pendidikan walaupun ujung-ujungnya untuk ngeseks.

Jadi jangan berimajinasi, masuk ke sebuah bangunan, belajar di sekolah itu dan praktek. Sama sekali berbeda. Sekolah di sini layaknya sebuah kursus saja. Janjian ketemu di mana, belajar bersama, lalu ada prakteknya pula menalukan nampa di tempat umum, dimulai dengan contoh oleh senpai (senior) atau gurunya.

"Bayarannya sekitar 3000-5000 yen per jam dan seorang siswa yang belajar nampa mungkin bisa mengeluarkan uang sampai 60.000 yen akhirnya untuk bisa pintar melakukan nampa," ungkap Yamada (nama samaran) pemilik sekolah Tokyo Nampa School khusus kepada Tribunnews.com Selasa ini (15/5/2018).

Yamada masih berusia 30 tahun tapi pengalaman Nampa sudah 10 tahun dan belajar dari seniornya yang dikenal saat baito (kerja paruh waktu) di perusahaan agen koran Jepang.

Halaman
12
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help