Selundupan Emas Dari Hong Kong ke Jepang Oleh Yakuza, Rugikan Negara 4,8 Miliar Yen

"Penyelundupan telah dilakukan sebenarnya sejak Agustus tahun lalu hingga kini dan sekitar 150 kali

Selundupan Emas Dari Hong Kong ke Jepang Oleh Yakuza, Rugikan Negara 4,8 Miliar Yen
Richard Susilo
Bukti sitaan emas yang diselundupkan 7 orang yakuza Jepang, kerugian negara senilai kira-kira 4,8 miliar yen 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Tujuh anggota mafia Jepang (yakuza) termasuk pimpinannya dari Inagawa-kai ditangkap polisi pagi hari ini (16/5/2018) karena terbukti melakukan penyelundupan emas dengan total kergian negara sekitar 4,8 miliar yen.

"Penyelundupan telah dilakukan sebenarnya sejak Agustus tahun lalu hingga kini dan sekitar 150 kali dengan total berat 990 kilogram emas yang diselipkan diselundupkan ke dalam berbagai macam barang dari HongKong menuju Jepang," papar sumber Tribunnews.com Rabu ini (16/5/2018).

Kini ketahuan lagi menyelundupkan  10 kilogram emas dengan nilai sekitar 45 juta yen atau penyelundupan pajak sekitar 3,6 juta yen dari Hong Kong pula.

Tujuh anggota yakuza termasuk pimpinannya, Tsubasa Honjo, 34, telah ditangkap kepolisian Metropolitan Tokyo pagi ini.

Penemuan kali ini di bandara internasional Airport di mana sebelumnya para pelaku memang telah diincar oleh para petugas bandara yang kerjasama erat dengan pihak kepolisian Jepang.

Masih dalam pemeriksaan polisi hingga saat ini belum diketahui apakah mereka mengakui perbuatannya atau tidak.

Dana penjualan emas dipastikan untuk kegiatan para anggota yakuza tersebut dan diperkirakan hukuman penjara sekitar dua tahun akibat pengulangan penyelundupan yang dilakukan mereka.

Emas diselundupkan dalam bentuk lempengan-lempengan sangat tipis yang dibuat dengan bentuk sama seperti kotak barang jualan, diselipkan di bagian bawah sekali, ditutup karton lagi, sehingga kalau kotak dibuka hanya kelihatan seperti barang oleh-oleh biasa saja.

Info lengkap yakuza dapat dibaca di www.yakuza.in

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help