BBC

Seberapa sulit mengajak masyarakat tidak buang sampah ke sungai?

Sebuah gerakan bernama Sekolah Sungai muncul di Klaten, Jawa Tengah, untuk mendorong masyarakat ikut membersihkan dan merawat sungai.

"Jadi tahun 2016 itu sungai di dekat rumah itu bersih. Tapi kemudian ada satu orang yang membuang sampah di sungai. Nah itu ternyata menular ke orang lain. Jadinya sekarang sungai itu kotor lagi. Papan larangan membuang sampah di sungai juga nggak ada, " jelas Tina.

Perlu keberlanjutan

Kendati belum berjalan mulus, Sekolah Sungai di Klaten dinilai berada di jalur benar dalam membangkitkan kepedulian warga akan masalah sampah.

Tantangan Sekolah Sungai Klaten adalah bagaimana mempertahankan keberlanjutan.

"Sustainability yang paling rawan. Kenapa sangat rawan? Karena sustainability ini berkaitan dengan keistiqomahan untuk menjaga agar tetap dalam relnya. Perlu komunikasi yang sesuai dengan kondisi warga. Jadi bukan sekadar omongan atau wacana saja," jelas pengamat lingkungan dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prabang Setyono.

Menurutnya, topik keberlanjutan bukan hanya masalah khusus di sekolah sungai Klaten, tapi juga sekolah sungai di daerah lain. Bahkan masing-masing kementerian memiliki inisiatif sendiri yang terkait dengan sekolah sungai. Ia menilai jika kinerja seperti itu rentan tumpah tindih dan rawan tak berlanjut.

"Semuanya memang butuh aktor penggeraknya untuk triggernya. Tetapi jika dibiarkan seperti ini terus kan malah seperti hukum alam. Nanti orang yang bergerak itu-itu saja. Jangan sampai gerakan ini hanya milik pegiat lingkungan dan pemerintah, tapi juga milik masyarakat," paparnya.

Sumber: BBC Indonesia
BBC
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help