Orang Jepang yang Mengaku Raja Belut di Indonesia Ternyata Hanya Pemberi Makan Belut

Seorang warga Jepang yang mengaku punya peternakan dan disebut Raja Belut dan tinggal di Indonesia, HI, ternyata tak memiliki ilmu pengembangan belut.

Orang Jepang yang Mengaku Raja Belut di Indonesia Ternyata Hanya Pemberi Makan Belut
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Belut yang banyak disantap orang Jepang. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Seorang warga Jepang yang mengaku punya peternakan dan disebut Raja Belut dan tinggal di Indonesia, HI (75), ternyata tak memiliki ilmu pengembangan belut. Dia hanya memberikan makan belut saja.

"Dia bohong besar, kerjanya cuma memberikan makan belut saja, tidak punya teknologi, tak punya ilmu mengembangkan belut di Indonesia," kata Hiroshi Takaoka, CEO Presdir Jawa Suisan Indah kepada Tribunnews.com belum lama ini.

HI kelahiran Kunisaki Perfektur Oita di selatan Jepang, datang ke Indonesia sejak berusia 28 tahun (sekitar tahun 1971), merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara.

Dua tahun setelah menikah dengan orang Jepang dia ke Indonesia.

Istrinya meninggal di usia 55 tahun karena kanker.

Sekitar 40 tahun HI berada di daerah Pelabuhan Ratu Indonesia yang disebutnya sebagai tempat pembibitan dan pengembangan.

Baca: KMP Teluk Sinabang Membawa Ratusan Pemudik Tiba Selamat Meski Tali Kapal Sempat Putus Dihantam Ombak

Demikian pengakuan HI saat diwawancarai sebuah televisi Jepang dua tahun lalu (2016).

"Tanggal 1 Januari 2016 saya mengambil alih 100 persen saham perusahaannya, dan dia pensiun per 31 Maret 2018 kemarin," kata Hiroshi Takaoka.

"Karena dia tak punya teknologi pengembangan Unagi, perusahaan yang dulu dipegang HI bangkrut dua kali," tambah Takaoka.

"Benar-benar dulu bisnisnya tidak menguntungkan lalu saya ambil alih," kata dia.

Setelah bekerjasama dengan Mitsubishi Shokuhin (Mitsubishi Foods) untuk penjualan, bisnis Takaoka semakin baik.

Bahkan setelah aliansi model dengan Hayashi Kane Sangyo yang memiliki ilmu dan teknologi budidaya belut, perusahaannya jadi maju dengan kualitas tinggi seperti belut yang dibudidayakan di Jepang.

"Kami merencanakan investasi tambahan untuk lebih meningkatkan produksi di masa depan," lanjut Takaoka.

"Pengalaman HI di Indonesia meskipun tinggal di sana 40 tahun, benar-benar dia pembohong besar," kata Takaoka.

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help