Hujan Lebat Mengguyur Jepang Memicu Banjir Bandang dan Longsor di Jepang, 98 Tewas

Sebelumnya, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengatakan, pemerintah telah mendirikan pusat tanggap darurat sejak Minggu (8/7/2018) sore.

Hujan Lebat Mengguyur Jepang Memicu Banjir Bandang dan Longsor di Jepang, 98 Tewas
AFP
Operasi penyelamatan korban banjir bandang dan tanah longsor di Saga, Jepang, akibat guyuran hujan lebat. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ria Anatasia

TRIBUNNEWS.COM, HIROSHIMA - Sebanyak 94 orang tewas dan 54 menghilang akibat banjir bandang dan tanah longsor Jepang.

Dilansir The Guardian, Senin (9/7/2018), hujan lebat mengguyur negeri Sakura tersebut, terutama di bagian barat daya pada Minggu (8/7/2018) malam mengakibatkan lebih dari dua juta warga dievakuasi.

Lebih dari 50.000 anggota pasukan pertahanan, polisi, pemadam kebakaran dan penjaga pantai, dibantu oleh helikopter dan perahu dayung, berusaha menyelamatkan para korban.

Beberapa warga terdampar di atas atap hanya beberapa meter di atas permukaan air.

Baca: Kadis BPPKAD Lampung Tengah Kembalikan Uang Suap Rp 100 Juta ke KPK

Sebelumnya, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengatakan, pemerintah telah mendirikan pusat tanggap darurat sejak Minggu (8/7/2018) sore.

"Upaya penyelamatan ini berpacu dan mengejar waktu. Tim penyelamat berusaha melakukan yang terbaik untuk menemukan orang-orang yang hilang dan terperangkap," jelasnya sebagiamana dilaporkan NHK.

Longsor di Jepang
Operasi penyelamatan korban banjir bandang dan tanah longsor di Kitakyushu, Fukuoka, Jepang, akibat guyuran hujan lebat.

Di kota Kurashiki, 170 pasien dan staf rumah sakit diselamatkan petugas menggunakan perahu dayung militer. Sementara 80 orang di daerah tersebut masih terlantar.

"Saya benar-benar berterima kasih kepada penyelamat. Saya merasa sangat lega telah dibebaskan dari tempat gelap yang berbau tak sedap.” kata Shigeyuki Asano, pasien berusia 79 tahun.

Baca: Opick Ajak Rossa Bikin Konser Amal untuk Biayai Pembangunan Rumah Sakit Dhuafa

Kaori Ito, walikota Kurashiki, mengatakan ribuan pengungsi sangat membutuhkan pakaian.

“Tidak ada baju yang bisa dipakai. Kami membutuhkan kaos, celana panjang, celana dalam, kaus kaki, dan bahkan sepatu,” kata Ito kepada surat kabar Asahi Shimbun.

Penulis: Ria anatasia
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help