Hukuman Mati Pemimpin Aum Jepang Sangat Jelas, Jernih, Transparan dan Sudah Tepat

Setelah banyak mempertimbangkan segala sesuatu, keputusan memerintahkan eksekusi hukuman mati

Hukuman Mati Pemimpin Aum Jepang Sangat Jelas, Jernih, Transparan dan Sudah Tepat
Richard Susilo
Shoko Asahara, 63, pendiri kultus hari kiamat Aum Shinrikyo 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo di Jepang

TRIBUNNEWS Tokyo - Keputusan hukuman mati yang diputus final Mahkamah Agung Jepang tahun 2006 dan dilaksanakan Jumat lalu (6/7/2018) terhadap Shoko Asahara, 63, pendiri kultus hari kiamat Aum Shinrikyo sudah sangat jelas, jernih, transparan dan sudah tepat sekali.

"Setelah banyak mempertimbangkan segala sesuatu, keputusan memerintahkan eksekusi hukuman mati Jumat lalu sudahlah jelas, jernih, transparan dan sudah tepat sekali untuk dilakukan," papar Menteri Kehakiman Jepang Yoko Kamikawa (65) Jumat lalu (6/7/2018).

Kamikawa menambahkan bahwa pertimbangan cermat, sesuai keputusan hukum yang ada dan berulang kali berpikir mempertimbangkan, akhirnya memang harus dieksekusi.

Shoko Asahara, pendiri kultus hari kiamat Aum Shinrikyo dan dalang di balik serangan gas saraf 1995 yang mematikan di sistem kereta bawah tanah Tokyo - dan sejumlah kejahatan mengerikan lainnya pada 1980-an dan 90-an - dieksekusi pada hari Jumat lalu.

Kamikawa juga menegaskan bahwa enam anggota Aum lainnya yang dikutuk - Tomomasa Nakagawa, 55, Kiyohide Hayakawa, 68, Yoshihiro Inoue, 48, Masami Tsuchiya, 53, Seiichi Endo, 58, dan Tomomitsu Niimi, 54 - juga dieksekusi.

Secara total, Asahara, 63, yang nama aslinya adalah Chizuo Matsumoto, ditemukan bersalah karena perannya dalam 13 kejahatan yang menyebabkan kematian 27 orang, angka yang kemudian meningkat menjadi 29. Dalam serangan kereta api bawah tanah Tokyo, 13 orang terbunuh dan lebih dari 6.000 orang terluka.

Kemarian Asahara juga meninggalkan beberapa pertanyaan kritis yang tidak terjawab, karena bahkan selama persidangannya, Asahara tidak pernah menjelaskan motivasi sebenarnya untuk kejahatan yang dilakukannya.

Hukuman mati untuk guru pertama kali diturunkan oleh Pengadilan Distrik Tokyo pada Februari 2004 dan diselesaikan keputusan final oleh Mahkamah Agung pada bulan September 2006.

Kejahatan yang ia putuskan juga termasuk pembunuhan pengacara Tsutsumi Sakamoto, istrinya, dan putra mereka yang berusia 1 tahun pada November 1989, serta serangan gas sarin lain di Matsumoto, perfektur r Nagano, pada Juni 1994.

Serangan itu membunuh delapan orang dan meninggalkan sekitar 600 orang yang terluka.

Sebanyak 191 anggota Aum didakwa atas sejumlah tindakan kriminal - termasuk pembunuhan, percobaan pembunuhan, penculikan dan produksi gas saraf yang mematikan dan senapan otomatis ilegal. Dua belas orang telah dijatuhi hukuman mati.

Dalam kasus serangan gas Sarin di kereta api bawah tanah Tokyo tanggal 20 Maret 1995, Tribunnews.com juga nyaris pula terkena gas Sarin tersebut saat meliput daerah pemerintahan Kasumigaseki Tokyo.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved