Rumah Sakit Dharmais Ajak Jepang Ikut Partisipasi Tender Investasi Perluasan Fasilitas Medis

Kita coba cari investor dari Jepang bukan hanya uangnya saja tetapi kita ingin mereka dapat melakukan transfer teknologi

Rumah Sakit Dharmais Ajak Jepang Ikut Partisipasi Tender Investasi Perluasan Fasilitas Medis
Richard Susilo
Pimpinan Rumah Sakit Kanker Dharmais, Pimpinan PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia serta para calon investor Jepang 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS Tokyo - Rumah Sakit Kanker Dharmais dengan penjamin PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII) berpromosi dan mengajak investor Jepang melakukan investasi ke Indonesia untuk perluasan infrastruktur fasilitas medis tersebut.

"Kita coba cari investor dari Jepang bukan hanya uangnya saja tetapi kita ingin mereka dapat melakukan transfer teknologi ke Indonesia pula nantinya," papar dr. Muhammad Firdaus dari rumah sakit Dharmais khusus kepada Tribunnews.com Kamis ini (2/8/2018).

Presentasi selain diberikan dr. Firdaus juga oleh Djoko Sarwono, Executive Vice President PII dan pihak KPMG sebagai konsultan rumah sakit Darmais.

Djoko menjamin sepenuhnya proyek pembangunan infrastruktur rumah sakit Dharmais yang membutuhkan dana sekitar 2 triliun rupiah .

"PT PII saat ini memiliki 16 proyek raksasa dengan jaminan 176 triliun rupiah. PII mempu menjamin sebesar sepuluh kali dari modalnya yang saat ini hampir 10 triliun rupiah," ungkap Djoko lagi.

Setelah presentasi mengenai rencana tender investasi modal rumah sakit kanker Dharmais sejak jam 14:00 tadi diikuti sekitar 30 peserta, akhirnya saat konsultasi lebih lanjut hanya tiga lembaga yang tertarik.

Salah satunya adalah perusahaan dagang Sojitz Corporation. Lalu Deloitte Touche Tohmatsu Japan dan Tokyo SME Support Center Japan yang keduanya juga untuk disampaikan kepada para Anggota berbagai perusahaan Jepang, yang tampaknya tertarik kepada Rumah Sakit Kanker Dharmais.

"Apa kami bisa ikutan tender ya? Kita perusahaan kecil menengah Jepang ini," papar Oshima dari Tokyo SME Support Center Japan kepada Tribunnews.com.

Peserta seminar lainnya yang tak mau disebutkan namanya kepada Tribunnews.com menyatakan sebenarnya tertarik tetapi waktunya terlalu terburu-buru tadi dan kurang rinci penjelasannya tadi.

"Kita bingung mau menyampaikan apa ke bos saya dan bagaimana rincian proses tender agar ada kesempatan bisa ikut investasi di rumah sakit itu, semua masih belum jelas kayaknya," papar salah seorang peserta tadi kepada Tribunnews.com.

Perhatian banyak perusahaan Jepang sebenarnya cukup besra terhadap pembangunan RS Kanker Dharmais. Tinggal pendekatan ke masing-masing perusahaan mungkin perlu dilanjutkan satu per satu, termasuk konsultasi lewat email atau internet lebih lanjut, tambahnya lagi.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help