Berkedok Investasi Batubara di Indonesia, Bos Jepang Tipu 29 Juta Yen, Dihukum Penjara 2 Tahun

Tersangka Hotta beserta dua tersangka lain menerima keputusan pengadilan tersebut.

Berkedok Investasi Batubara di Indonesia, Bos Jepang Tipu 29 Juta Yen, Dihukum Penjara 2 Tahun
Richard Susilo
CEO Soo-Boo Co.Ltd. Shoji Hotta (53) 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo di Jepang 

 TRIBUNNEWS Tokyo - Seorang bos perusahaan Jepang, CEO Soo-Boo Co.Ltd. Shoji Hotta (53) , dihukum denda 1 juta yen penjara 2 tahun dengan hukuman percobaan 3 tahun.

 "Kejahatan penipuan yang dilakukan pelaku sangat pintar dan memiliki tanggungjawab yang berat, namun menunjukkan pula adanya sedikit pengembalian kepada korban," papar Hakim yang mengadili Hotta kemarin (6/8/2018) dalam keputusannya di pengadilan negeri Osaka.

Tersangka Hotta beserta dua tersangka lain menerima keputusan pengadilan tersebut.

Dua wanita korbannya dengan kerugian 29 juta yen melapor kepada polisi karena merasa ditipu, janjinya dapat bunga 2 persen tiap bulan sudah setahun tak dapat uang sama sekali," ungkap sumber Tribunnews.com, baru-baru ini.

Korbannya bukan kedua wanita itu saja tetapi ada 360 orang sehingga total kerugian mencapai 3,5 miliar yen yang menurut pengusutan polisi uang tersebut kebanyakan tidak ditransfer ke Indonesia, tetapi digunakan sendiri.

Lalu ke mana uang 3,5 miliar yen itu hilang?

Polisi masih mengusut lebih lanjut kasus ini dan Hotta telah berada di dalam tahanan kepolisian untuk penyelidikan lebih lanjut, karena dianggap melakukan penipuan serta dicurigai melanggar undang-undang penanaman modal.

Hotta sendiri kepada polisi mengakui kesalahannya tersebut dan beralasan bahwa harga batubara jatuh sehingga tak bisa bayar bunga yang dijanjikan.

Perusahaannya di Indonesia tidak ditulis PT tetapi ditulis Soo Boo Indonesia Co.Ltd di Wisma 46-Kota BNI, 11th Floor Jalan Jenderal Sudirman Kav. 1, Jakarta 10220 Indonesia.

Komisaris Akhmad Rinantra P, Presdir Dr Eng Muhammad Hafnan, wakilnya adalah Shoji Hotta, dan stafnya ada tiga orang yaitu Agus Rahmadi, Imam Arifin dan Yuyun K.

"Pengusutan uang yang diterima tersangka masih dilakukan polisi terhadap tersangka, ke mana arusnya. Kalau sampai ada ke organisasi kejahatan, tentu akan lebih berat hukumnya," kata sumber itu.

Kasus penipuan orang Jepang dengan dalih investasi di Indonesia oleh orang Jepang sendiri, tidaklah sedikit sehingga orang Jepang pun tidak sedikit pula yang jadi korban kerugian ratusan ribu yen, bahkan sampai puluhan juta yen per orang dalam investasi bersama.

Tribunnews.com sempat beberapa kali dihubungi warga Jepang yang meminta dan ingin mengkonfirmasi kebenaran ada tidaknya proyek berbagai hal di Indonesia dan setelah diusut ternyata hanya upaya penipuan saja berdalih investasi  di berbagai bidang khususnya pertambangan di Indonesia dari orang Jepang.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help