Iklan Net Jepang Sedikitnya Rp.200 Triliun per Tahun, 9,1% Terkait 100 Situs ''Gelap''

Apabila iklan kami terdistribusikan tidak benar pada akhirnya, tentu sangat disayangkan dan tak dapat dimaafkan.

Iklan Net Jepang Sedikitnya Rp.200 Triliun per Tahun, 9,1% Terkait 100 Situs ''Gelap''
Richard Susilo
Iklan Biro Limpasan (Sewerage) Tokyo yang ternyata terkait situs "gelap" terdorong untuk mendongkrak jumlah pengakses. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo di Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO -  Tahun lalu jumlah biaya pasang iklan di berbagai net (situs) Jepang mencapai sedikitnya 1,5 triliun yen atau sekitar Rp.200 triliun per tahun.

Namun ternyata sekitar 9,1% terkait situs "gelap" seperti film porno, judi dan sebagainya. Periset iklan internet Jepang "Momentum" mengungkapkan baru-baru ini.

"Apabila iklan kami terdistribusikan tidak benar pada akhirnya, tentu sangat disayangkan dan tak dapat dimaafkan. Kita ingin perusahaan iklan yang kita pakai itu bertanggungjawab sepenuhnya dan menyetop distribusinya kalau memang ada yang lari ke iklan gelap," papar Riki Sakai, Kepala  Biro Limpasan (Sewerage) pemda Tokyo yang memasok 70 juta yen dana per tahun lewat biro iklan Dentsu yang mendistribusikan iklannya lewat internet.

Sementara Shuji Yamaguchi sebagai Direktur Dentsu Digital mengakui adanya penyelewengan tersebut yang diakibatkan oleh kerja robot internet dalam pendistribusiannya.

"Di iklan net memang ada sistim yang tidak bisa terkontrol akibat kerja robot pendistribusi iklan dengan tipe "operational" yang secara tak sengaja bisa mengaitkan iklan gelap ke sana. Ini gara-gara kita ingin iklan yang dipasang banyak diklik sehingga secara tak sengaja bisa terkait iklan gelap yang sekali terkait akan berlipat ganda pula muncul iklan gelap lainnya. Semua ini dampak robot penggandaan iklan net supaya semakin banyak ter klik dilihat semakin banyak orang."

Saat ini hal-hal yang terkait secara tak sengaja oleh sistim yang ada di internet menurutnya masih diinvestigasi lebih lanjut mengenai "ilegal signature" yang akhirnya lari ke situs gelap.

Ada pula teknik disebut  "bot"  yang dilakukan otomatis komputer yang mengakses situs berisi iklan lalu secara otomatis pula meng inflasi (menggandakan) ke situs lain pula sehingga iklan ikut terbawa secara tidak sengaja. Hal ini biasa disebut Ad Fraud atau pemalsuan iklan, membuat iklan seolah banyak berlipat ganda di akses.

Sementara itu dari Yahoo Japan juga mengakui hal penggandaan iklan secara otomatis tetapi sebenarnya palsu dan akibatnya ada yang lari ke situs gelap pula.

"Memang ada hal yang sulit kami kontrol pula dan kadang saya ingin ke perusahaan iklan agar mengontrol iklannya dengan baik pula. Namun tetap saja kadang kecolongan dengan masuknya program gelap terselip yang akhirnya secara tak sengaja latri ke situs gelap. Kita juga sedang menyelidiki hal ini karena merugikan semua pihak. Kalau perlu gita ganti uang pasang iklan mereka," papar Tatsuya Miyazawa dari bagian iklan Yahoo Jepang.

 Perusahaan periset internet IAS (International Accreditation Service) dari Amerika Serikat juga mengungkapkan iklan net yang "gelap" di Jepang tahun lalu mencapai sekitar 8,4% dari jumlah iklan yang bertebaran di net Jepang saat ini baik dari perusahaan maupun iklan dari pemerintah Jepang.
  
 Penyebab utama dari munculnya keterkaitan iklan gelap secara tak sengaja itu sebenarnya hanya karena pemasang iklan ingin sebanyak mungkin iklan terlihat sebanyak mungkin orang.

"Memang ada filter untuk target yang mau diraih, namun dengan keinginan sebanyak mungkin iklan dilihat peng klik, akhirnya kadang melompati filter tersebut supaya peng klik sebanyak mungkin tercapai dan di situlah kemungkinan iklan gelap yang sering menyelipkan program selisipannya, akhirnya masuk dan terkait dengan iklan klik sang pemasang iklan lewta robot penggandaan iklan net," ungkap sumber Tribunnews.com yang lain Rabu ini (5/9/2018).

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved