Angka Kematian Anak Sekolah Karena Bunuh Diri di Jepang Masih Tinggi

Dari 250 anak terebut, sebanyak 140 tidak meninggalkan catatan alasan ia bunuh diri sehingga diduga karena ada masalah dengan keluarga

Angka Kematian Anak Sekolah Karena Bunuh Diri di Jepang Masih Tinggi
Richard Susilo
Ilustrasi bunuh diri banyak dilakukan kaum muda Jepang. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Angka kematian anak karena bunuh diri di Jepang mencapai angka tertingginya sepanjang tiga dekade terakhir.

Dilansir dari BBC, pada periode tahun 2016 hingga Maret 2017 sebanyak 250 anak yang duduk di sekolah dasar (SD) meninggal karena bunuh diri. Angka tersebut tertinggi sejak 1986.

Dari 250 anak terebut, sebanyak 140 tidak meninggalkan catatan alasan ia bunuh diri sehingga diduga karena ada masalah dengan keluarga, kekhawatiran akan masa depan dan faktor dibuli.

Kebanyakan siswa yang bunuh diri itu ketika mereka mulai masuk ke bangku SMA dan di Jepang biasanya sekolah hingga umur 18 tahun.

Jepang memang memiliki tingkat bunuh diri tertinggi pada tahun 2015, tetapi sejak tindakan pencegahan diperkenalkan, angka-angka telah menurun sesuai dengan data Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.

Baca: Mengenal Kakek Anies Baswedan yang Terima Gelar Pahlawan Nasional

Terlihat dari data kepolisian yang mencatat pada 2017 hanya 21.000 orang bunuh diri, menurun dari 2003 yang mencapai 34.500 orang.

Meski jumlahnya menurun, anak-anak sekolah yang bunuh diri angkanya tetap masih tinggi bahkan menjadi penyebab utama kematian anak muda di Jepang.

Menteri Pendidikan Jepang, Noriaki Kitazaki pun menyebutkan permasalahan bunuh diri itu menjadi masalah yang sangat mengkhawatirkan dan akan diatasi.

"Jumlah siswa tetap tinggi, dan itu adalah masalah yang mengkhawatirkan yang akan diatasi," kata kementerian pendidikan Noriaki Kitazaki saat angka terakhir dirilis.

Penulis: Apfia Tioconny Billy
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved