BBC

Hari Pahlawan: Siapa saja dan ke mana para 'Ibu Bangsa'?

Jika kita sudah mengetahui peran Soekarno-Hatta dan Sjahrir sebagai para founding fathers atau "Bapak Bangsa", lalu siapa yang bisa kita sebut

Jika kita sudah mengetahui peran Soekarno-Hatta dan Sjahrir sebagai para founding fathers atau 'Bapak Bangsa', lalu siapa yang bisa kita sebut sebagai 'Ibu Bangsa' dan kenapa tak banyak nama perempuan yang muncul dalam narasi masa lalu Indonesia, terutama di masa menjelang dan sesudah kemerdekaan Indonesia?

Situs Wikipedia punya satu halaman khusus untuk entry 'Bapak Bangsa' menyebut ada 68 tokoh yang "memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan bangsa asing dan berperan dalam perumusan bentuk atau format negara yang akan dikelola setelah kemerdekaan".

Dari 68 tokoh ini, hanya 44 yang disebutkan namanya dan semuanya laki-laki.

Namun pencarian atas 'Ibu bangsa' tak membuahkan hasil yang sama jelasnya seperti dengan entry 'Bapak Bangsa'. Lalu siapa tokoh perempuan yang bisa masuk kategori itu dan kenapa tak ada kategori khusus untuk keterlibatan perempuan di masa menjelang dan sesudah kemerdekaan Indonesia, spesifiknya antara 1942-1949?

Menurut peneliti feminis di Institut Kajian Kritis dan Studi Pembangunan Alternatif Ruth Indiah Rahayu, memang ada cara pandang penulisan sejarah di Indonesia yang diskriminatif dan didominasi teori politik.

"Yang disebut politik itu adalah yang formal, kelihatan, di mana pelakunya adalah laki-laki. Dominasi sejarah politik dalam historiografi kita lalu jadi terpengaruh, sehingga yang disebut sejarah adalah peristiwa-peristiwa formal yang berhubungan dengan politik formal yang kemudian yang muncul pelakunya adalah laki-laki," kata Ruth, Jumat (9/11).

Riset tentang masa lalu, kemudian menurut Ruth, akhirnya hanya menjadi riset tentang peristiwa dengan aktor-aktor politik laki-laki dan aktivitas yang melibatkan aktor-aktor perempuan kemudian tidak kelihatan.

"Saya contohkan saja, aktivitas politik perempuan itu kan banyak yang disebut garis belakang. Apa itu garis belakang? Yang pertama adalah kurir politik, itu pekerjaan intelijen. Itu luar biasa perempuan sebagai kurir politik, banyak perempuan digunakan untuk menerobos barikade tentara kolonial baik Jepang maupun Belanda. Itu pekerjaan sangat berbahaya dan penting dan memang mempertaruhkan nyawa, ini yang nggak kelihatan," kata Ruth.

Selain itu, pekerjaan politik perempuan dalam memimpin dapur umum - mulai dari penyiapan logistik pengumpulan makanan sampai memasak - dan keterlibatan perempuan dalam barisan laskar palang merah, tidak dianggap sebagai keterlibatan politik, melainkan aktivitas sosial.

"Ada tiga aktivitas politik penting perempuan, yang hanya karena dianggap garis belakang, dan karena tidak ada tokoh, kemudian itu dihilangkan dalam penulisan sejarah sebagai aktivitas politik. Padahal tanpa tiga aktivitas itu, maka makna peristiwa-peristwa politik itu tidak akan ada," kata Ruth.

Halaman
123
Sumber: BBC Indonesia
BBC
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved