Deutsche Welle

Sepenggal Kisah Kegiatan Sehari Seorang Mahasiswa di Jerman

Memang benar adanya, biaya kuliah di Jerman gratis atau tepatnya hampir gratis, tetapi yang mahal adalah biaya hidupnya, terutama…

Jam menunjukan pukul 21.00 Waktu Eropa Tengah (CET) ketika aku sedang duduk menunggu waktu berbuka puasa di sebuah kantin milik salah satu pabrik pembuat rem mobil. Dari jendela kantin bisa kulihat sinar matahari mulai redup dan akan diganti oleh sinar bulan yang disambut dengan asap hitam dari pipa-pipa tinggi bagian pengecoran besi panas.

Waktu telah menunjukan pukul 21.05 dan berakhirlah penantian panjang hari ini atas seteguk air yang sangat menggoda ketika siang hari. Setelah cukup makan dan minum, aku segera berjalan menuju toilet untuk mengambil air wudhu. Ini adalah waktu yang tepat untuk sholat di kantin yang sudah sepi.

Selepas sholat aku langsung menuju tempat kerja yang berjarak hanya 20 meter dari kantin. Pada musim panas banyak pekerja tetap pabrik ini mengambil cuti berminggu-minggu, karena pada saat yang sama anak-anak merekapun sedang mendapat libur musim panas dari sekolahnya. Masa liburan rata-rata berkisar 6 minggu. Oleh karena itu pihak pabrik membuka lowongan pekerjaan kepada para mahasiswa untuk bekerja di sela-sela liburan musim panas mereka, yang lamanya bisa sampai 3 bulan. Aku termasuk mahasiswa langganan mereka yang telah setia sejak tahun 2010 bekerja untuk 4 sampai 8 minggu pada saat musim panas. Tahun ini, aku mendapat kontrak selama 4 minggu dengan gaji 13 Euro per jam.

Biasanya jika kita bekerja ekstra pada hari Sabtu dan Minggu, kita untuk sebulan akan mendapatkan uang sekitar 2.400 Euro. Jumlah ini relativ cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup seorang mahasiswa asing di Jerman selama kurang lebih setengah tahun. Memang benar adanya jika biaya kuliah di Jerman gratis atau tepatnya hampir gratis, tetapi yang mahal adalah biaya hidupnya, terutama untuk biaya sewa kamar yang rata-rata berkisar 200 Euro per bulan dan asuransi wajib mahasiswa yang hampir 100 Euro per bulan. Biayanya berkisar antara 250-350 Euro per semester untuk semua jurusan. Jadi anda harus menyiapkan minimal 400 Euro per bulan untuk bisa berkuliah di negara panser ini.

Pekerjaanku kali ini sangat membosankan, yaitu memastikan tidak ada rem mobil yang cacat. Ketika kebosanan memuncak, mulailah khayalanku bergerak ke suatu masa di suatu tempat yang panas di tengah sawah. Kala itu aku masih berumur 13 tahun. Setelah pulang sekolah, aku sempatkan, atau lebih tepatnya, aku harus menyusul temak dan bapakku di sawah, karena biasanya pada merekalah ada makan siang.

Selepas makan siang aku langsung membantu mereka sambil sesekali melihat ke langit menanti layangan yang putus ataupun sesekali mengejar katak bangkong yang besar. Pada musim panen tidak jarang aku harus memanggul gabah basah yang beratnya bisa mencapai 40 kilogram untuk dibawa ke rumah yang berjarak hampir satu kilometer dari sawah.

Rasa panas pada jari-jariku dengan serta merta memotong khayalan dan memaksaku untuk kembali ke dunia nyata. Akupun langsung mengganti sarung tangan dan melanjutkan pekerjaan yang lama-lama terasa sangat membosankan ini.

Tetapi waktu cepat berlalu dan tidak terasa pekerjaanpun telah selesai. Aku langsung bergegas mengganti baju lalu keluar menuju gerbang utama pabrik karena harus menuju stasiun yang berjarak 700 meter dari sini untuk mengejar kereta yang akan segera berangkat.

Sesampainya di Bahnhof (stasiun kereta api) kota ini, kulihat pula para mahasiswa yang akan pulang dengan kereta ini. Mereka kukenali pada muka yang kehitaman-hitaman oleh debu pabrik tetapi berpakaian keren seperti mahasiswa pada umumnya. Kebanyakan diantara mereka adalah mahasiswa asing juga seperti aku.

Ada sekitar 350.000 mahasiswa asing di Jerman, dengan pertumbuhan 6-7 % setiap tahunnya. Hal itu berarti 1 dari 10 mahasiswa di Jerman adalah mahasiswa asing. Biaya kuliah di Jerman yang relatif murah jika dibandingkan dengan biaya kuliah di Amerika Serikat atau Inggris masih menjadi magnet utama yang menarik para pelajar luar negeri untuk belajar di Jerman. Ditambah dengan kesempatan yang banyak untuk magang atau bekerja paruh waktu membuat Jerman menempati posisi ke 4 di dunia sebagai negara tujuan favorit para pelajar luar negeri.

Halaman
123
Sumber: Deutsche Welle
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved