Polisi Jepang Tangkap Bos Perusahaan Penjual Obat Antibiotik kepada Turis China

Polisi Osaka telah menangkap presiden sebuah perusahaan pedagang besar obat antibiotika Jepang yang bermarkas di Perfektur Saitama.

Polisi Jepang Tangkap Bos Perusahaan Penjual Obat Antibiotik kepada Turis China
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Obat-obatan Jepang harus pakai resep terjual bebas kepada kelompok China. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Polisi Osaka telah menangkap presiden sebuah perusahaan pedagang besar obat antibiotika (harus pakai resep) Jepang yang bermarkas di Perfektur Saitama beserta stafnya, Sabtu (1/12/2018).

"Obat yang seharusnya dijual pakai resep itu terjual bebas kepada sekelompok turis China yang mengenalnya sebagai "obat Tuhan" karena sangat manjur untuk berbagai penyakit," ungkap sumber Tribunnews.com, Minggu (2/12/2018).

Presiden tersebut ditangkap karena melakukan pelanggaran UU Farmasi dan Peralatan Medis Jepang, menjual obat langsung kepada masyarakat yang seharusnya menggunakan resep.

Di China obat-obatan antibiotika tersebut terkenal sebagai "Obat Tuhan" karena bisa menyembuhkan berbagai penyakit.

Baca: Loyalnya Ninja Jepang, Bersedia Mati Demi Menjaga Kehidupan Sang Pemimpin

Bulan Mei 2018 polisi menangkap sekelompok turis China karena menjual obat-obatan Jepang tanpa resep.

Setelah diusut ternyata mereka mendapatkan obat dari sebuah produsen obat di Perfektur Saitama.

Mereka menjual dengan menyebarkan info lewat media sosial, menyebarluaskannya sehingga semakin banyak turis China memesan dan membeli "Obat Tuhan" tersebut.

Polisi kini masih mencari tahu alur penyebaran obat tersebut yang seharusnya tidak boleh terjadi karena perlu izin khusus dan harus ke rumah sakit atau klinik.

Baca: BREAKING NEWS: Polsek Balikpapan Barat Amankan Seorang Pria di Rumah Ibadah, Geraknya Mencurigakan

Tidak bisa langsung kepada masyarakat.

Diperkirakan banyak orang China membeli obat-obatan Jepang tersebut secara ilegal dan dijual dengan harga cukup mahal.

Sehingga mereka mendapatkan keuntungan mencapai jutaan yen dan banyak ditransaksikan kalangan turis China.

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved