Anak Terlibat Teroris Sempat Histeris Saat Baru Direhabilitasi Kementerian Sosial

Anak yang terlibat teroris tersebut, tambahnya, selalu ingin menuju Siria bergabung dengan ISIS, sama sekali tak mau mendengarkan kata-kata petugas

Anak Terlibat Teroris Sempat Histeris Saat Baru Direhabilitasi Kementerian Sosial
Richard Susilo
Edi Suharto 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, Tokyo - Tugas rehabilitasi dari kementerian sosial termasuk melakukan rehabilitasi anak yang terlibat teroris, di samping yang juga dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

"Sat kita melakukan rehabilitasi, anak yang terlibat teroris sempat histeris tak mau dengar kata apa pun dari kita, selalu menyebut Allahuakbar dan sangat benci kepada aparat pemerintah atau yang dianggap tidak sealiran dengannya," papar Dirjen rehabilitasi sosial Edi Suharto PhD khusus kepada Tribunnews.com siang ini (4/12/2018).

Anak yang terlibat teroris tersebut, tambahnya, selalu ingin menuju Siria bergabung dengan ISIS, sama sekali tak mau mendengarkan kata-kata dari petugas atau orang pemerintah yang di dalam pikirannya selalu dibenci sekali, tambahnya lagi.

"Jadi pada awalnya kita semua pusing juga, semuanya mental balik dan sama sekali membenci kita. Yang ada di otaknya hanya keinginan bergabung ke ISIS di Siria," tambahnya.

Pihak kementerian sosial dan BNPT bersabar menangani dan merehabilitasi anak-anak tersebut hingga kini terlihat adanya kemajuan.

"Kini sudah banyak kemajuan. Bahkan mereka sudah mau menyanyikan lagu Indonesia Raya serta mau mendengarkan nasehat-nasehat kita untuk membangun bangsa bersama-sama," ungkapnya lagi.

Penanganan pihak rehabilitasi sosial kementerian sosial juga kepada kalangan difabel, kepada kalangan terlantar, kepada kalangan anak yang terlibat narkoba, kepada tuna susila serta masalah sosial lainnya.

Bahkan 3 Desember lalu kita merayakan Hari Disability Internasional bersama pak Presiden waktu itu di Indonesia, ungkapnya lagi.

"Penanganan sosial, rehabilitasi kalangan lansia juga kami lakukan dan ternyata tidak semudah yang kita bayangkan, karena harus kita pikirkan juga hal lain seperti infrastrukturnya, bagaimana menciptakan jalanan kusus bagi orang cacat misalnya, tanda-tanda khusus bagi mereka sehingga mudah diketahui bagi misalnya orang buta dan sebagainya."

Dengan demikian sebenarnya dana yang dibutuhkan kementerian sangatlah besar seiring dengan besarnya jumlah penduduk di Indonesia.

Belum lagi rehabilitasi anak yang terlibat narkoba yang saat ini terhitung sekitar 4 juta orang.

"Kita mau semua yang direhabilitasi tersbeut pada akhirnya sembuh dan normal kembali lalu kembali ke masyarakat dengan baik untuk ikut bersama membangun bangs adan negara Indonesia ini. Jadi memang berat sekali tugas kita dalam merehabilitasi banyak orang mulai anak-anak sampai lansia yang jumlahnya puluhan juta jiwa sebenarnya," tekannya lebih lanjut.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved