Menteri Susi Kunjungi Pusat Ilmiah Monaco, Studi ‘Benchmarking’ Pengembangan Teknologi Kelautan

Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Susi Pudjiastuti mengunjungi Pusat Ilmiah Monaco dalam rangka studi ‘Benchmarking’ pengembangan teknologi kelautan.

Menteri Susi Kunjungi Pusat Ilmiah Monaco, Studi ‘Benchmarking’ Pengembangan Teknologi Kelautan
Tribunnews.com/ Rina Ayu
Menteri Kelautan dan Perikanan RI Susi Pudjiastuti di Kantor Kementerian KKP di Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (21/11/2018). 

TRIBUNNEWS.COM, MONACO - Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Susi Pudjiastuti mengunjungi Pusat Ilmiah Monaco (The Scientific Center of Monaco) di sela kunjungan kerjanya ke negara itu, Selasa (4/12/2018).

Dalam kunjungan itu Menteri Susi Pudjiastuti didampingi Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (PRL) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Brahmantya Satyamurti Poerwadi dan Duta Besar (Dubes) Indonesia Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) untuk Perancis merangkap Andora dan Monaco, Letjen (Purn) Hotmangaradja MP Pandjaitan.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat dan mempelajari pusat ini sebagai referensi pembangunan Pangandaran Integrated Aquarium and Marine Research Institute (PIAMARI) dan Morotai Integrated Aquarium and Marine Research Institute (MIAMARI) yang pembangunannya akan selesai dalam waktu dekat.

Sebagai informasi, pusat ilmiah ini dibangun Pemerintah Monaco pada tahun 1960 untuk kebutuhan studi berkelanjutan mengenai ekosistem pantai karang tropis dan mediterania.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri, Lilly Aprilya Pregiwati dalam rilisnya mengatakan, salam penelitiannya, pusat ilmiah ini menggunakan penguin sebagai indikator perubahan ekosistem kutub.

Baca: Hari Ini 15 Jenazah yang Ditemukan di Puncak Kabo akan Dievakuasi

Penguin juga digunakan untuk menerjemahkan penelitian dasar ke dalam layanan klinis, seperti senyawa anti kanker, terapi gen penyakit neuromuskular, dan studi mikrobiota manusia.

Dalam kunjungan tersebut, Menteri Susi dan rombongan delegasi RI diterima oleh Presiden Pusat Ilmiah Monaco, Patrick.

Mereka berdiskusi mengenai perkembangan penangkapan ikan ilegal dan kondisi terumbu karang Indonesia.

"Terumbu karang Indonesia saat ini tengah menghadapi ancaman. Tak hanya di Indonesia, di dunia pada umumnya jumlah terumbu karang terus menurun drastis akibat global warming, penangkapan ikan ilegal, dan kegiatan merusak manusia lainnya. Ini harus menjadi perhatian bersama," ungkap Menteri Susi.

"Untuk itu, kami mengajak semua peneliti untuk ikut menyelamatkan terumbu karang dunia," imbuhnya.

Selanjutnya, rombongan melakukan studi lanjutan dengan melihat-lihat fasilitas yang tersedia di Pusat Ilmiah Monaco didampingi peneliti Biologi Laut, Didier Zocolla.

Di hari yang sama, rombongan juga bertemu dengan Honorary Consul RI untuk Monaco, Mahmoud Shaker Al-Abood guna membahas peluang dan hubungan kerja sama kedua negara di bidang kelautan dan perikanan dan hal terkait lainnya.

Sebelumnya, Menteri Susi bersama rombongan juga menghadiri rapat koordinasi Keketuaan Bersama International Coral Reef Initiative (ICRI) di Museum Oseanografi Monaco.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Susi bertemu dengan Minister Plenipotentiary, Special Adviser to the Prime Minister on Sustainable Development Issues Monaco, Bernard Faultier; Vice-president Chief Executive Officer of the Prince Albert II of Monaco Foundation; dan Margareth Johnson General Manager of Great Barrier Reef Marine Park Authority Australia.

Pertemuan tersebut merupakan pre-meeting Keketuaan Bersama ICRI 2018-2020 (Indonesia, Monaco, dan Australia) sebelum penyelenggaraan Sidang Umum ke-33 ICRI pada hari berikutnya, 5-7 Desember 2018 di Monaco.

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved