Hadiri Pertemuan di Monako, Indonesia Fokus Tangani Isu Perdagangan Ikan Karang Hidup Konsumsi

“Permintaan terhadap ikan karang hidup konsumsi ini terus meningkat karena nilai ekonominya sangat besar," katanya

Hadiri Pertemuan di Monako, Indonesia Fokus Tangani Isu Perdagangan Ikan Karang Hidup Konsumsi
ISTIMEWA
Penandatanganan Letter of Intent (LoI) antara Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan The Centre Scientifique De Monaco Of The Principality Of Monaco (Pusat Riset Monako) dilakukan oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP, Brahmantya Satyamurti Poerwadi dan Presiden Pusat Riset Monako, Patrick Rampal disaksikan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, Menteri dalam Negeri Monako, Patrice Cellario, dan Wakil Menteri Luar Negeri Monako, Isabelle Rosabrunneto. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM, MONAKO - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mewakili Indonesia dalam kegiatan Rapat Umum (General Meeting) International Coral Reef Initiative (ICRI) di Monako, Kamis (6/12/1018).

Di hadapan anggota Science and Conservation of Fish Aggregations (SCRFA) dan The Nature Conservancy, Menteri Susi Pudjiastuti menyampaikan, perlunya pengaturan dan pengelolaan perdagangan ikan karang hidup konsumsi yang berkelanjutan.

Baca: Menteri Susi Kunjungi Pusat Ilmiah Monaco, Studi ‘Benchmarking’ Pengembangan Teknologi Kelautan

“Permintaan terhadap ikan karang hidup konsumsi ini terus meningkat karena nilai ekonominya sangat besar. Bahkan dilakukan dalam skala industri yang sangat besar. Perdagangan ikan karang hidup ini sangat rentan karena mudah dieksploitasi secara berlebihan,” ungkap Menteri Susi Pudjiastuti dalam keterangan pers Humas KKP RI.

Pada pertemuan bertema Perdagangan Ikan Karang Hidup Konsumsi (Live Reef Food Fish Trade/LRFFT) itu diketahui, ikan karang hidup konsumsi (Live Reef Food Fish/LRFF) telah lama menjadi komoditas perikanan yang sangat diminati pasar internasional.

Tak heran jika LRFF menjadi primadona ekspor bagi beberapa negara, terutama dikirim ke Hong Kong maupun Tiongkok.

Namun, tingginya minat dan harga itu kemudian menciptakan tren perdagangan LRFF yang cukup mengkhawatirkan.

Menurut Susi Pudjiastuti, perdagangan ikan karang hidup konsumsi ini berkaitan erat dengan perlindungan keanekaragaman hayati dan spesies-spesies yang terancam punah.

Eksploitasi penangkapan ikan ini dapat merusak ekosistem terumbu karang yang berakibat pada punahnya ekosistem laut yang menggantungkan hidup dari terumbu karang.

“Terumbu karang sebagai tempat pemijahan dan tempat hidup beberapa ikan juga terancam keberlanjutannya. Terlebih penangkapan ikan karang hidup konsumsi ini juga banyak dilakukan dengan cara yang merusak,” lanjut Menteri Susi Pudjiastuti.

Susi Pudjiastuti menyakini, perdagangan ikan karang hidup konsumsi selama ini terkait erat dengan kegiatan Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing.

Menurutnya banyak penangkapan ikan karang hidup yang dilakukan secara ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak mengikuti aturan yang ada.

Baca: Ngobrol Bareng, Nelayan Ini Mengaku Tak Tahu Susi Pudjiastuti adalah Menteri KKP

Untuk itu, Menteri Susi Pudjiastuti berharap agar perdagangan LRFF ini dibuat lebih transparan.

“Kita butuh transparansi dalam perdagangan ikan karang hidup konsumsi ini. Kita juga membutuhkan perangkat aturan yang lebih tertata agar pengelolaannya dapat dilakukan secara bertanggung jawab,” ungkapnya.

Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Imanuel Nicolas Manafe
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved