Lima Pejabat Malaysia Jadi Sorotan Karena Skandal Ijazah Palsu

Para pemimpin lain dari koalisi Pakatan Harapan yang berkuasa sejak itu dituduh memiliki kualifikasi akademik yang meragukan.

Lima Pejabat Malaysia Jadi Sorotan Karena Skandal Ijazah Palsu
STRAITS TIMES
Wakil Menteri Luar Negeri Malaysia Marzuki Yahya 

Laporan Reporter Kontan, Tendi Mahadi

TRIBUNNEWS.COM, KUALA LUMPUR - Malaysia kini tengah diterpa krisis kepercayaan terhadap pemerintahannya sendiri. Setelah lima pejabat dari Pekatan Harapan dituduh memiliki ijazah palsu.

Skandal ijazah palsu ini pukulan bagi koalisi Pakatan Harapan yang selama ini terus membanggakan diri sebagai pemerintah yang berintegritas tinggi

Dilansir dari Strait Times, kontroversi ini dimulai dari seorang wakil menteri yang kualifikasi akademiknya dipertanyakan. Kontroversi kemudian berkembang hingga merembet ke politisi terkemuka lainnya. Hal ini pun menempatkan pemerintah Malaysia di bawah pengawasan.

Wakil Menteri Luar Negeri Malaysia Marzuki Yahya telah mengklaim memiliki gelar sarjana dari Universitas Cambridge Inggris melalui program pembelajaran jarak jauh.

Tetapi setelah seorang aktivis mengajukan laporan polisi, ia mengakui pada hari Rabu bahwa gelar itu sebenarnya dari Universitas Internasional Cambridge, yang diduga sebagai pabrik gelar di Amerika Serikat.

Para pemimpin lain dari koalisi Pakatan Harapan yang berkuasa sejak itu dituduh memiliki kualifikasi akademik yang meragukan.

Baca: Makan Siang di Rest Area KM 166 Tol Cipali, Sandiaga Uno Ungkap Penurunan Pengguna Jalan Tol

Beberapa pejabat tersebut di antaranya adalah Menteri Pertahanan Mohamad Sabu, Menteri Perumahan dan Pemerintah Daerah Zuraida Kamaruddin, Menteri Besar Johor Osman Sapian dan anggota dewan eksekutif Perak Paul Yong Choo Kiong.

Pengamat politik dari Institut Penang, Wong Chin Huat mengatakan Marzuki harus mengundurkan diri. Sementara pejabat lain juga harus berterus terang terkait kualifikasi akademik mereka.

"Tidak apa-apa bila tidak memiliki gelar, karena kita tidak perlu semua politisi menjadi teknokrat," katanya. 

Halaman
12
Editor: Choirul Arifin
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved