Menteri Olimpiade Ditegur PM Jepang Gara-gara Komentarnya Terhadap Rikako Ikee yang Terkena Leukemia

Menteri Olimpiade dan Paralimpik Jepang 2020, Yoshitaka Sakurada (69) kena tegur PM Jepang Shinzo Abe

Menteri Olimpiade Ditegur PM Jepang Gara-gara Komentarnya Terhadap Rikako Ikee yang Terkena Leukemia
Kyodo
Menteri Olimpiade dan Paralimpik Jepang 2020, Yoshitaka Sakurada (69) sedang berbicara di sidang parlemen Rabu ini (13/2/2019) 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Menteri Olimpiade dan Paralimpik Jepang 2020, Yoshitaka Sakurada (69) kena tegur PM Jepang Shinzo Abe di sidang parlemen Jepang Rabu ini (13/2/2019) atas komentarnya "Benar-benar Kecewa" ditujukan kepada atlit renang top Jepang Rikako Ikee yang terkena Leukemia (kanker darah putih).

"Ucapan menteri memang seharusnya lebih hati-hati lagi lain kali dalam berkomentar," tegas PM Abe di ruang sidang parlemen Rabu ini (13/2/2019).

Abe berharap perenang Jepang Ikee bisa cepat sembuh dari sakitnya.

"Semoga perawatan khusus kepada Ikee dapat segera menyembuhkannya. Kini konsentrasi dulu untuk perawatan penyembuhannya tersebut dan berharap cepat pulih dan kembali ceria lagi seperti yang kita harapkan bersama. Kita akan bantu mengawasinya dengan baik," papar PM Abe.

Setelah Rikako Ikee mengumumkan penyakitnya tersebut, Sakurada langsung berkomentar kepada wartawan.

"Dia itu pemegang medali emas yang sangat potensial, atlit yang sangat kita harapkan sekali bisa menjadi kebanggaan kita. Saya sangat kecewa sekali," papar Menteri Sakurada.

Di sidang parlemen Rabu ini Sakurada meminta maaf atas ucapannya tersebut dan menarik kembali ucapan tersebut.

"Saya minta maaf sedalamnya atas ucapan tersebut dan menarik kembali ucapan tersebut," tekan Sakurada di parlemen Jepang.

Sakurada, yang merangkap sebagai kepala strategi keamanan siber pemerintah, tidak asing dengan kontroversi. Dia mengakui November 2018 bahwa dia tidak bisa menggunakan komputer.

Di masa lalu, Sakurada diperingatkan karena mengatakan bahwa perempuan yang dipaksa masuk ke rumah pelacuran militer Jepang masa perang dunia kedua adalah "PSK karena pekerjaan."

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved