Bencana Jepang 8 Tahun Lalu, Tanggal 11 Maret Sebenarnya Belum Selesai

Diperkirakan 18.000 orang tewas atau hilang dan lebih dari 54.000 orang masih tidak dapat kembali ke rumah mereka.

Bencana Jepang 8 Tahun Lalu, Tanggal 11 Maret Sebenarnya Belum Selesai
Ist
Yoshizawa Masami pemilik “Ranch of Hope” dengan “Godzila Cow” nya, yang ia harapkan bisa merubah kebijakan pemerintah Jepang tentang pembangkit listrik tenaga nuklir di Fukushima 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Tepat hari ini, Senin (11/3/2019) kejadian bencana besar di Tohoku utara Jepang bencana alam dan bencana nuklir di pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima.

Mengenang kembali gempa besar dan tsunami Jepang Timur yang terjadi 11 Maret 2011, yang memicu bencana nuklir di Fukushima, bencana terburuk di dunia sejak bencana Chernobyl 1986.

Diperkirakan 18.000 orang tewas atau hilang dan lebih dari 54.000 orang masih tidak dapat kembali ke rumah mereka. Beberapa kota terdampak radiasi nuklir dikategorikan dengan zona wilayah, zona merah untuk wilayah “no go zone” atau dilarang masuk, zona kuning untuk wilayah hati hati dan zona hijau untuk wilayah aman dari radiasi.

"Fukushima merupakan pusat pembangkit tenaga nuklir yang memasok kebutuhan listrik ke berbagai wilayah di Jepang termasuk Tokyo. Pasca ledakan nuklir, Kota Namie dan Futaba adalah 2 kota yang masuk dalam kategori “no go zone”, larangan pergi untuk penduduk atau dilarang masuk, dengan tingkat radiasi tinggi (melebihi 50 millisieverts per tahun), hanya bisa dimasuki dengan izin khusus," ungkap Nurjanah, Peneliti Tokyo Metropolitan Universitykhusus kepada Tribunnews.com Senin ini (11/3/2019).

Ada pembelajaran yang sangat berharga dari peristiwa meledaknya pembangkit listrik tenaga nuklir ini.

"Di Sekolah Dasar (SD) area Ukedo, Kota Namie yang mempunyai 77 siswa, pada saat terjadi gempa yang cukup kuat terasa, salah satu siswa mengatakan kepada guru bahwa mungkin sebaiknya mereka evakuasi ketempat yang lebih tinggi, bukan di halaman sekolah mereka seperti yang sudah menjadi panduan umum keselamatan di Jepang, saat terjadi bencana. Guru pun menyetujui usul tersebut, mereka berjalan bersama-sama ke tempat yang lebih tinggi kurang lebih ketinggian 15 meter. Dan selamatlah mereka semua dari bencana tsunami. Titik evakuasi itu kemudian diabadikan sebagai kuburan massal para korban tsunami," ungkapnya.

Sebelum meledaknya reaktor nuklir, di kota ini terdapat setidaknya 7 peternakan sapi. Saat bencana gempa dan tsunami melanda, disusul dengan meledaknya reaktor nuklir, wilayah ini menjadi wilayah merah dan harus dikosongkan, oleh karena itu ternak2 yang masih hidup terlantar dan mati dengan sendirinya karena tidak terurus dan kelaparan.

Bangkai-bangkai binatang menjadi masalah baru timbulnya kuman dan penyakit sehingga pemerintah mengumumkan untuk menyuntik mati hewan-hewan yang tersisa dan membakarnya semua. Yoshizawa Masami salah satu pemilik peternakan yang mengalami kesedihan mendalam ketika melihat banyak ternaknya yang mati terlantar, terjangkit penyakit maupun terkena radiasi. Dari 1500 sapi yang ia miliki sebelumnya, masih tersisa 300 sapi.

"Alih-alih mengikuti anjuran pemerintah untuk menyuntik mati semua hewan yang tersisa, Ia memilih untuk mempertahankan semua hewan-hewan itu. Yoshizawa seperti tersentak dan terbangun dengan misi baru dalam hidupnya bahwa “Bencana 11 maret belum selesai”, menurutnya, ada beberapa hal yang harus dibenahi pemerintah, salah satunya adalah menghentikan seluruh operasi pembangkit listrik tenaga nuklir di wilayah Fukushima."

Halaman
12
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved