Jaga Citra Olimpiade, Anggota Kekaisaran Jepang Akan Mengundurkan Diri Dari Jabatan Ketua JOC

Takeda membantah telah melakukan kesalahan dalam proses penawaran untuk Olimpiade Tokyo dan Paralimpiade, namun tetap menginginkan mengundurkan diri

Jaga Citra Olimpiade, Anggota Kekaisaran Jepang Akan Mengundurkan Diri Dari Jabatan Ketua JOC
Richard Susilo
Tsunekazu Takeda (71) Ketua Komisi Olimpiade Jepang 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Tsunekazu Takeda, 71, anggota keluarga kekaisaran Jepang, Ketua Dewan Komite Olimpiade Jepang (JOC), akan mengundurkan diri besok Selasa (19/3/2019) untuk menjaga citra Olimpiade Tokyo 2020 agar tetap bersih.

"Takeda akan mengundurkan diri besok dalam rapat Dewan JOC. Hal itu dilakukannya untuk menjaga citra yang tetap bersih bagi penyelenggaraan Olimpiade 2020 mendatang," ungkap sumber Tribunnews.com Senin ini (18/3/2019).

Takeda membantah telah melakukan kesalahan dalam proses penawaran untuk Olimpiade Tokyo dan Paralimpiade, namun tetap menginginkan mengundurkan diri besok (19/3/2019) pada pertemuan dewan JOC.

Masa jabatannya yang ke-10 berakhir pada Juni 2019. Batas jabatan Ketua JOC sebenarnya sampai dengan usia 70 tahun saja. Namun khsuus Takeda menjadi pengecualian dan banyak pihak berharap Takeda dapat melanjutkan posisinya tersebut sampai Olimpiade 2020 terselenggara.

Mantan peraih medali emas judo Olimpiade, Yasuhiro Yamashita dan Kozo Tashima, keduanya anggota dewan eksekutif senior JOC, dinobatkan sebagai calon pengganti Takeda.

Penyelidik kejaksaan Perancis mencurigai bahwa sebagian dari 2,8 juta dolar Singapura ( 2 juta dolar AS) telah dibayarkan kepada panitia lelang Tokyo Games melalui perusahaan konsultan Singapura Black Tidings pada 2013 khususnya melalui akun bank Papa Massata Diack, seorang pria Senegal yang ayahnya adalah anggota Komite Olimpiade Internasional yang berpengaruh kuat.

Takeda, yang juga anggota IOC, mengatakan pembayaran kepada perusahaan Singapura itu adalah kompensasi yang sah berdasarkan perjanjian konsultasi dan ia akan terus bekerja sama dengan pihak kejaksaan Perancis untuk membersihkan namanya.

Takeda ditempatkan di bawah penyelidikan formal untuk "korupsi aktif" pada Desember 2018. Pada bulan Januari, Takeda membantah tuduhan terhadapnya karena diduga membeli suara yang menyebabkan keberhasilan tawaran Tokyo pada 2013 terpilih sebagai tuan rumah Olimpiade 2020.

Ibukota Jepang mengalahkan Madrid dan Istanbul, dan Tokyo berhak menjadi tuan rumah pertandingan Olimpiade 2020.

Takeda lahir sebagai putra ketiga dari Pangeran Tsuneyoshi Takeda. Kakek buyutnya adalah Kaisar Meiji. Tsunekazu Takeda dan putranya Tsuneyasu Takeda belajar di Universitas Keio dan kemudian mengajar disana.

Takeda telah menjadi pengendara kuda yang handal sepanjang masa hidupnya. Ia berkompetisi dalam palang rintang di Olimpiade 1972 dan 1976 dan masing-masing meraih peringkat ke-16 dan ke-13, dengan tim Jepang. Kemudian, ia melatih tim equestrian Jepang di Olimpiade 1984, 1988 dan 1992 dan menjadi Chef de Mission di Pesta Olahraga 2002 dan 2004.

Pada 1987, Takeda masuk Komite Olimpiade Jepang dan menjadi presidennya pada Oktober 2001. Ia juga menjabat sebagai Wakil Presiden federasi Equestrian Internasional dari 1998 sampai 2002, dan kemudian menjadi Wakil Presiden Kehormatan.

Takeda menjadi direktur olahraga untuk komite penyelenggara Olimpiade Musim Dingin 1998 di Nagano. Ia juga dua kali terpilih menjadi Wakil Presiden Dewan Olimpiade Asia pada 2001 dan 2011.

Sebagai anggota Komite Olimpiade Internasional, Takeda mengkoordinasikan persiapan Olimpiade Musim Dingin 2010, 2014 dan 2018.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved