Kejar Penghasilan Hingga 1,2 Miliar Yen, 500 Murid Sebuah Sekolah di Jepang Jadi Penduduk Ilegal

Sebuah sekolah di Jepang Universitas Kesejahteraan Sosial Tokyo mengejar penghasilan 1,2 miliar yen dalam tiga tahun terakhir.

Kejar Penghasilan Hingga 1,2 Miliar Yen, 500 Murid Sebuah Sekolah di Jepang Jadi Penduduk Ilegal
Foto JNN/Koresponden Richard Susilo
Grafik penerimaan melonjak pesat di lembaga riset Universitas Kesejahteraan Sosial Tokyo. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS. COM, TOKYO - Sebuah sekolah di Jepang Universitas Kesejahteraan Sosial Tokyo (Tokyo Fukushi Daigaku atau TFD) mengejar penghasilan 1,2 miliar yen dalam tiga tahun terakhir. Akibatnya membuat sedikitnya 500 pelajar asing kabur dan jadi penduduk ilegal di Jepang.

"Kami menerima laporan tahun 2017 tidak ada yang kabur dari sekolah TFD tersebut. Oleh karena itu kami akan lakukan penelitian mendalam ke sekolah segera," ungkap Menteri Pendidikan, Masahiko Shibayama, Rabu (20/3/2019) dalam rapat parlemen Jepang.

Sedangkan penyelidian kantor berita JNN Jepang mencatatkan sedikitnya 500 murid TFD selama tahun 2017 dengan status peneliti (kenkyusei) kabur dan jadi penduduk ilegal di Jepang.

Dari 5.700 murid yang diterima mulai 2016, 2017 dan 2018, sebanyak 1.400 murid TFD diduga kabur dan jadi ilegal di Jepang, yaitu dari Mongolia, Vietnam dan Nepal. Tidak ada dari Indonesia.

Dibandingkan dengan Universitas Waseda, yang hanya 21 persen pelajar asing, di TFD jumlah pelajar asing sebanyak 82 persen dari seluruh siswa yang belajar di sekolah itu.

Seorang staf TFD dengan identitas disembunyikan, kepada JNN mengungkapkan bahwa siswa asing benar-benar tak mengerti bahasa Jepang sederhana atau Hiragana saja.

"Banyak pelajar asing yang bahkan dengan karakter Hiragana sederhana saja tidak mengerti tapi diterima dan belajar di TFD, ini tak mengerti saya," paparnya.

Status peneliti tidak ada batasan jumlah. Itulah sebabnya TFD memasukkan pelajar asing sebagai status peneliti bukan ryugakusei (pelajar) asing yang ada pembatasan jumlah dari Kementerian Pendidikan Jepang.

Grafik penerimaan melonjak pesat di lembaga riset Universitas Kesejahteraan Sosial Tokyo.
Grafik penerimaan melonjak pesat di lembaga riset Universitas Kesejahteraan Sosial Tokyo. (Foto JNN/Koresponden Richard Susilo)

Seorang pengacara terkenal, Shoichi Ibusuki mengungkapkan karena sekolah mengejar target uang saja, maka muncul lubang menganga yang justru menjatuhkan sekolah itu, menjadikan para pelajar banyak yang kabur dan menjadi ilegal.

"Kementerian pendidikan harus segera ambil tindakan dan monitoring lebih ketat lagi kepada sekolah-sekolah semacam itu," kata sang pengacara.

Saat ini semakin banyak pelajar kabur dan menjadi ilegal di Jepang.

Status penerimaan (persetujuan) imigrasi Jepang saja terhadap pelajar Indonesia saat ini hanya sekitar 15 persen dibandingkan tahun 2012 sekitar 98 persen, sehingga mudah masuk ke Jepang sebagai pelajar.

Sementara yang mau masuk sebagai pekerja juga semakin sulit karena semakin banyak penduduk ilegal, serta penyalahgunaan visa masuk ke Jepang belakangan ini.

Diskusi tenaga kerja gratis dapat diikuti di Facebook (www.facebook.com/groups/kerjadijepang/).

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved