Virus Langka Monkeypox, Kenali Gejalanya

Penyakit ini dinamakan monkeypox karena kali pertama ditemukan pada monyet, tahun 1958.

Virus Langka Monkeypox, Kenali Gejalanya
Public Health Image Library/CDC/WHO
Penderita penyakit monkeypox 

TRIBUNNEWS.COM, SINGAPURA - Monkeypox, virus menular yang biasa ditemukan di kawasan Afrika kini terjadi di Singapura, setelah seorang warga Nigeria yang berada di negara itu dinyatakan positif terkena penyakit tersebut.

Penyakit ini dinamakan monkeypox karena kali pertama ditemukan pada monyet, tahun 1958.

Gejala Monkeypox

Mereka yang terinfeksi monkeypox biasanya mengalami demam, sakit kepala, sakit otot, nyeri, pembengkakan kelenjar getah bening dan ruam pada kulit.

Dalam beberapa kasus, virus ini dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, radang otak dan infeksi mata.

Dikutip dari laman Straitstimes, Jumat (10/5/2019), menurut Departemen Kesehatan Singapura, Monkeypox biasanya sembuh secara sendirinya, sebagian besar pasien bisa pulih dalam waktu dua hingga tiga pekan.

Baca: Seorang Terjangkit Monkeypox, Kasus Penyakit Langka Pertama Di Singapura

Kematian akibat penyakit ini pun bervariasi, bisa dikarenakan wabah, namun kurang dari 10 persen dilaporkan sebagian besar terjadi pada anak-anak.

Bagaimana Penyebaran Monkeypox ?

Penularan virus ini biasanya terjadi saat seseorang melakukan kontak dekat dengan hewan yang terinfeksi, seperti tikus, kemudian melalui perburuan dan konsumsi daging hewan liar.

Daging hewan liar merupakan salah satu daging yang diburu dan dijual untuk dikonsumsi di kawasan Afrika.

Jenis daging ini memang menjadi sumber protein yang populer pada beberapa negara di Afrika.

Untuk penularan penyakit ini antar manusia memang masih memungkinkan namun masih terbatas.

Hal itu karena seseorang hanya akan tertular jika ia memiliki gejala, terutama ruam pada kulit.

Penyebaran virus monkeypox pun terjadi khususnya melalui pernafasan dan tetesan, serta biasanya memerlukan kontak tatap muka yang berkepanjangan.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved